
Pantau - Kementerian Kebudayaan mendorong penyusunan dan penerbitan buku suntingan karya-karya Syekh Yusuf al-Makassari melalui kolaborasi dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) guna memperluas akses terhadap manuskrip yang selama ini masih tersebar dan terbatas.
Akses Manuskrip dan Strategi Penyusunan
Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh kondisi karya Syekh Yusuf yang sebagian besar masih berupa manuskrip di berbagai koleksi sehingga sulit diakses publik dan peneliti.
Dalam program tersebut, penyusunan buku akan mempertahankan teks asli berbahasa Arab yang disertai terjemahan bahasa Indonesia sebagai bentuk pelestarian sekaligus kemudahan pemahaman.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik langkah ini dan menilai proyek tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian manuskrip Nusantara serta penguatan diplomasi budaya Indonesia.
Ia menekankan percepatan penyusunan agar buku dapat diluncurkan pada momentum strategis tahun ini.
"Teks tidak perlu dilatinkan. Namun demikian, opsi penerjemahan ke bahasa Inggris tetap terbuka sebagai pengembangan buku ini nantinya. Kalau ada bahasa Inggris, saya kira di sana (Afrika Selatan) juga dapat respons yang bagus, sekaligus memperluas jangkauan internasional karya tersebut," ungkapnya.
Kolaborasi Internasional dan Nilai Historis
Sebanyak 23 karya Syekh Yusuf telah diidentifikasi dalam penelitian sebelumnya oleh Manassa, dengan tiga manuskrip penting tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berkode A 45, A 101, dan A 108 yang berasal dari perpustakaan Kesultanan Banten.
Penyusunan buku tahap awal akan difokuskan pada tiga manuskrip utama tersebut karena memiliki nilai historis yang signifikan.
Ketua Umum Manassa Agus Iswanto menyebutkan terdapat tambahan lima manuskrip yang tersimpan di Leiden, Belanda, dengan dua di antaranya telah tersedia dalam format digital.
Ia menjelaskan tiga manuskrip lainnya masih memerlukan izin akses dari Leiden Library/UBL dan KITLV untuk dapat diteliti lebih lanjut.
"Oleh karenanya kami berharap Kementerian Kebudayaan dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan Leiden Library, untuk memungkinkan digitalisasi tiga manuskrip berikutnya, serta dapat melakukan kajian komparatif terhadap varian naskah tersebut," ujarnya.
Secara keilmuan, karya-karya Syekh Yusuf mencerminkan pemikiran tasawuf serta memiliki relevansi dalam konteks diaspora dan sejarah hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan.
Program ini juga mencakup penyuntingan edisi kritis berbasis metode filologi, termasuk identifikasi dan verifikasi manuskrip, publikasi ilmiah berkualitas, akses terbuka, serta diseminasi kepada masyarakat luas.
Hasil akhir program diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pendidikan dan penelitian sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
- Penulis :
- Shila Glorya





