
Pantau - Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI) Riza Primadi menilai kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, bukan semata disebabkan human error, melainkan persoalan sistem operasional dan infrastruktur.
Masalah Sistem dan Operasional Jadi Sorotan
Riza menjelaskan kereta api jarak jauh memiliki bobot besar sehingga membutuhkan jarak pengereman panjang yang tidak bisa diabaikan.
"Human error itu siapa? Masinis? Rangkaian itu perlu jarak minimal 500 meteran jika dengan kecepatan hanya 60 km/jam," ujarnya.
Ia menilai masinis telah berupaya mengerem, terlihat dari dampak tabrakan yang tidak menghancurkan seluruh rangkaian kereta.
“Jika nggak ngerem bisa lebih dari dua sampai tiga kereta KRL yang bakal diseruduk,” katanya.
Menurutnya, mencampur perjalanan kereta api jarak jauh dan KRL dalam satu jalur menjadi faktor risiko tinggi karena perbedaan kecepatan dan pola berhenti.
“Pada prinsipnya secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda (KAJJ dan KRL) sangat berpotensi terjadinya KKA,” ucapnya.
Teknologi GPS Dinilai Bisa Cegah Kecelakaan
Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menilai penerapan teknologi berbasis GPS penting untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta.
"Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta," ujarnya.
Ia menjelaskan teknologi tersebut memungkinkan masinis mendeteksi kondisi jalur di depan termasuk potensi gangguan.
“Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” katanya.
Polda Metro Jaya sebelumnya telah memeriksa 31 saksi untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026 tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





