HOME  ⁄  Nasional

TB Hasanuddin Desak Pemerintah Kaji Mendalam Hibah Kapal Induk Italia yang Berpotensi Jadi Beban Anggaran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

TB Hasanuddin Desak Pemerintah Kaji Mendalam Hibah Kapal Induk Italia yang Berpotensi Jadi Beban Anggaran
Foto: (Sumber: Anggota Komisi I, DPR RI, TB Hasanuddin. Foto: Devi/Karisma.)

Pantau - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah mengkaji secara menyeluruh rencana hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia pada Selasa, 5 Mei 2026.

Sorotan Biaya dan Usia Kapal

Rencana hibah kapal induk dari Italia ini dinilai tidak bisa hanya dilihat dari statusnya yang gratis, melainkan harus mempertimbangkan beban biaya yang menyertainya.

“Dalam pengadaan militer ada pepatah yang relevan: tidak ada yang lebih mahal daripada kapal gratis. Karena itu, keputusan ini harus dikaji secara menyeluruh, tidak hanya dilihat dari nilai hibahnya,” ujar TB Hasanuddin.

Ia mengungkapkan bahwa biaya pemeliharaan kapal tersebut mencapai sekitar 5 juta euro per tahun, serta potensi biaya pembongkaran hingga 19 juta euro.

“Angka ini tentu akan menjadi beban baru bagi anggaran pertahanan Indonesia, di luar kebutuhan biaya operasional lainnya,” ungkapnya.

Selain itu, kapal yang mulai bertugas sejak 1985 tersebut dinilai sudah mendekati akhir masa operasionalnya.

Tantangan Operasional dan Interoperabilitas

TB Hasanuddin juga menyoroti kebutuhan biaya modernisasi yang mencakup pembaruan sistem radar, komunikasi, persenjataan, hingga pelatihan kru.

Ia menilai hal tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran pertahanan dalam jangka menengah.

Masalah interoperabilitas juga menjadi perhatian karena kapal tersebut dirancang untuk pesawat tempur STOVL AV-8B Harrier II yang tidak sesuai dengan armada Indonesia saat ini.

“Kondisi ini berpotensi menimbulkan kendala dalam jaminan ketersediaan suku cadang dan dukungan logistik,” terangnya.

Ia menegaskan pemerintah harus berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan strategis terkait pengadaan alat utama sistem persenjataan.

“Kita harus cermat memastikan bahwa setiap pengadaan alutsista benar-benar sesuai kebutuhan strategis dan berkelanjutan. Jangan sampai terlihat menguntungkan di awal, tetapi justru menjadi beban di kemudian hari,” pungkasnya.

Penulis :
Aditya Yohan