
Pantau - Hasil riset Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (UI) menemukan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons positif dari masyarakat kelas menengah ke bawah karena dinilai mampu membantu kebutuhan ekonomi keluarga dan pemenuhan gizi anak.
Penelitian yang dilakukan pada Oktober hingga Desember 2025 di lima daerah itu melibatkan 1.267 responden dari Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Dosen dan Peneliti Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI Hari Nugroho mengatakan sebanyak 85,8 persen siswa dari kelompok ekonomi bawah tercatat selalu menghabiskan makanan program MBG.
“Program MBG dinilai memberikan manfaat nyata bagi keluarga dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Data penelitian menunjukkan, semakin rendah kelas sosial siswa, semakin tinggi tingkat penerimaan mereka terhadap program ini,” kata Hari dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Program MBG Dinilai Ringankan Beban Ekonomi
Hari menjelaskan mayoritas orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut karena mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga.
“Sebagian besar orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut. Mereka menilai MBG mampu meringankan beban ekonomi keluarga, menghemat uang jajan anak, membantu orang tua yang sibuk menyiapkan makanan, serta mencegah anak mengalami kelaparan di sekolah,” ujarnya.
Penelitian itu juga mengungkap Program MBG memengaruhi dinamika ekonomi rumah tangga, termasuk perubahan pola pengeluaran keluarga.
Namun, peneliti menemukan sejumlah tantangan dalam pengorganisasian dan distribusi makanan yang dinilai perlu segera dibenahi.
Distribusi dan Menu Jadi Sorotan Penelitian
Hari menyebut salah satu persoalan utama terletak pada sistem tata kelola yang masih terpusat, termasuk penentuan menu dan standar operasional dapur.
“Salah satu persoalan yang cukup menonjol adalah standardisasi SOP, petunjuk teknis, dan siklus menu nasional yang ditetapkan secara terpusat,” ungkapnya.
Menurut penelitian tersebut, sebanyak 73,3 persen sekolah mengaku pernah mengalami kendala distribusi makanan, terutama keterlambatan pengiriman yang berdampak pada kualitas makanan.
Sekitar 59 persen siswa juga menyatakan makanan yang diterima “kadang hangat, kadang dingin”.
Selain itu, sebanyak 19 persen siswa mengaku pernah mengalami keluhan seperti sakit perut atau mual setelah mengonsumsi makanan program MBG.
Penelitian itu juga mencatat tingkat kebosanan terhadap menu makanan cukup tinggi.
“Dari hasil survei di lima daerah, sebanyak 53 persen siswa mengaku 'kadang-kadang bosan', 15 persen 'sering bosan',” tutur Hari.
Jenis makanan yang paling sering tersisa adalah sayur dengan persentase mencapai 77,9 persen.
Alasan utama siswa tidak menghabiskan makanan adalah rasa yang kurang sesuai dengan selera dengan persentase mencapai 55,9 persen.
Hari mengatakan riset tersebut merekomendasikan perbaikan menyeluruh terhadap Program MBG, mulai dari penajaman penerima manfaat, peningkatan distribusi, hingga penyesuaian menu sesuai kebutuhan daerah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





