
Pantau - Siloam Hospitals Lippo Village (SHLV) di Tangerang, Banten, menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Clinical Care Program Certification untuk penanganan Acute Ischemic Stroke dari Joint Commission International (JCI).
Sertifikasi internasional tersebut diberikan atas kesiapan rumah sakit dalam menangani pasien stroke secara komprehensif, cepat, dan sesuai standar global.
Hospital Director Siloam Hospitals Lippo Village dr. Erick Prawira Suhardhi mengatakan pencapaian itu menunjukkan sistem penanganan stroke di rumah sakit berjalan terkoordinasi dan konsisten.
“Dalam penanganan stroke, kecepatan dan ketepatan sangat krusial. Sertifikasi ini menunjukkan bahwa sistem kami mampu memberikan respon yang cepat, terkoordinasi, dan sesuai standar internasional, sehingga dapat meningkatkan peluang pemulihan pasien secara signifikan,” ujar dr. Erick di Tangerang, Jumat.
Penanganan Stroke Terintegrasi
Sertifikasi Clinical Care Program Certification atau CCPC merupakan pengakuan internasional bagi rumah sakit yang memiliki sistem penanganan stroke terintegrasi mulai dari kegawatdaruratan, diagnosis cepat, intervensi medis, hingga rehabilitasi pasien.
Standar tersebut juga menilai konsistensi tim medis dalam menjalankan protokol berbasis bukti atau evidence-based demi menghasilkan penanganan optimal bagi pasien.
Menurut dr. Erick, keikutsertaan SHLV dalam proses sertifikasi didasari komitmen untuk menghadirkan layanan stroke berstandar global di dalam negeri.
“Melalui kesiapan sistem stroke yang terstruktur, SHLV mampu memenuhi kriteria ketat JCI, termasuk kecepatan respon, koordinasi multidisiplin, serta pemantauan hasil klinis secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Stroke Masih Jadi Ancaman Serius
Dr. Erick menjelaskan stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di Indonesia.
Ia menyebut banyak kasus stroke berujung kecacatan permanen akibat keterlambatan penanganan medis.
Penanganan stroke iskemik akut, lanjutnya, membutuhkan tindakan cepat untuk membuka kembali aliran darah ke otak agar kerusakan sel otak tidak semakin parah.
“Kolaborasi tim dan kesiapan teknologi menjadi kunci utama. Kami memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang optimal sejak fase akut hingga pemulihan,” tambah dr. Erick.
- Penulis :
- Aditya Yohan





