
Pantau - Indonesia dan Filipina resmi menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis global melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) dalam Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis (7/5).
Kerja sama tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque.
Kerja Sama Perkuat Hilirisasi dan Pasokan Nikel
Airlangga mengatakan kolaborasi tersebut menjadi fondasi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor yang menghubungkan kekuatan hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel Filipina.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga.
MoU tersebut mencakup pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.
Kerja sama itu juga meliputi pengembangan teknologi hilirisasi nikel, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung ekosistem industri nikel berkelanjutan.
Airlangga menyebut Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang besar dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai 9,73 miliar dolar AS sepanjang 2025.
Pemerintah juga menargetkan investasi sektor tersebut mencapai 47,36 miliar dolar AS dengan penyerapan tenaga kerja hingga 180.600 orang pada 2030.
Menurut Airlangga, sejumlah smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel stabil dengan rasio silikon dan magnesium tertentu yang dapat dipenuhi dari Filipina melalui proses blending.
“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita,” ungkapnya.
Indonesia dan Filipina Kuasai Produksi Nikel Dunia
Airlangga menegaskan nikel memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi global.
Produk turunan nikel dinilai dapat mendukung pengembangan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi panel surya.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis guna mempercepat hilirisasi.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina menguasai 73,6 persen produksi nikel global pada 2025.
Indonesia menyumbang sekitar 66,7 persen produksi dunia atau 2,6 juta ton, sedangkan Filipina sebesar 6,9 persen atau 270 ribu ton.
Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5 persen cadangan nikel dunia atau sekitar 62 juta ton, sementara Filipina menguasai 3,4 persen atau 4,8 juta ton.
Hubungan perdagangan kedua negara juga terus meningkat sepanjang 2025.
Nilai ekspor Indonesia ke Filipina tercatat mencapai 10,22 miliar dolar AS atau setara 8,4 persen dari total impor Filipina, menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi negara tersebut setelah China dan Jepang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti





