
Pantau - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia atau FTUI Yuskar Lase memperkenalkan perubahan paradigma konstruksi bangunan dari pendekatan fixed base menuju sliding base untuk menghadapi ancaman gempa bumi di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Yuskar di kampus Universitas Indonesia, Depok, dengan menekankan bahwa gempa bumi tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan dapat diminimalkan melalui desain konstruksi yang tepat.
“Gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan,” ungkap Yuskar.
Perubahan Paradigma Konstruksi
Yuskar menjelaskan bahwa sistem sliding base bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bentuk rekonsiliasi antara rekayasa modern dan dinamika alam.
“Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi, bahkan menari bersama gempa,” ujarnya.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi kondisi Indonesia yang berada di jalur cincin api atau Ring of Fire yang membuat wilayah Indonesia berulang kali menghadapi gempa besar seperti gempa Sumatera 1833, Aceh 2004, hingga Cianjur 2022.
Menurut Yuskar, bangunan non-engineered bertingkat rendah dan menengah-bawah menjadi kelompok konstruksi yang paling rentan terhadap gempa bumi.
Ia menilai filosofi konstruksi di Indonesia saat ini masih didominasi pendekatan fixed base yang membuat struktur bangunan dirancang untuk menahan dan melawan energi gempa.
Yuskar mengatakan pendekatan tersebut terbukti paling rentan secara empiris maupun teoritis ketika diterapkan pada bangunan non-engineered.
“Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Itulah sebabnya kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” kata Yuskar.
Omo Hada Jadi Inspirasi Teknologi Tahan Gempa
Dalam penelitiannya, Yuskar mengangkat rumah adat Nias bernama Omo Hada sebagai referensi penting konstruksi tahan gempa di Nusantara.
Rumah adat tersebut menggunakan sistem struktur fleksibel dengan tumpuan batu, sambungan semi-rigid, dan bresing diagonal yang memungkinkan disipasi energi gempa melalui gesekan dan deformasi yang terkendali.
Ketahanan Omo Hada lintas generasi dinilai membuktikan bahwa prinsip adaptasi terhadap gempa telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Nusantara.
Kajian pasca gempa Nias 2005 menunjukkan rumah Omo Hada hanya bergeser sekitar 10 sentimeter tanpa mengalami kerusakan berarti meski diguncang gempa berkekuatan magnitudo momen atau Mw 8,6.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsep resiliensi konstruksi tidak hanya berasal dari teknologi modern luar negeri, tetapi juga dari warisan lokal Nusantara.
Yuskar menyebut teknologi modern seperti Double Concave Friction Pendulum atau DCFP merupakan pengembangan dari prinsip konstruksi yang diterapkan pada rumah adat Omo Hada.
- Penulis :
- Arian Mesa





