
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan anak dan keluarga menjadi kunci utama dalam pencegahan ancaman radikalisme digital di tengah derasnya arus informasi internet yang berpotensi membawa paham ekstremisme kepada generasi muda.
Direktur Pencegahan BNPT, Sigit Karyadi, menyampaikan hal tersebut dalam forum Kajian Senin Kamis (KSK) yang digelar secara daring bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung.
"Di dunia nyata mungkin terlihat aman, tetapi di ruang digital, pengaruhnya besar sekali, terutama bagi anak-anak. Bahkan, tercatat ada puluhan anak yang sudah terpapar konten kekerasan," ungkap Sigit Karyadi.
Sigit menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengawasan dan pendampingan anak dalam menggunakan internet bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Pemerintah Siapkan RAN-PE dan Perlindungan Anak Digital
Pemerintah disebut telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman radikalisme digital, termasuk kebijakan perlindungan anak di ruang digital.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme atau RAN-PE 2026–2029.
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah daerah didorong segera menyusun langkah konkret di tingkat lokal guna memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis masyarakat.
Berdasarkan hasil survei, mayoritas orang tua mulai melakukan pengawasan terhadap penggunaan internet anak.
Dari 59 persen responden yang memiliki anak usia 5 hingga 17 tahun, sebanyak 82 persen mengaku telah mendampingi penggunaan internet anak.
Meski demikian, masih terdapat hampir satu dari lima orang tua yang belum melakukan pengawasan sama sekali terhadap aktivitas digital anak.
BNPT Dorong Literasi Digital dan Pendidikan Karakter
BNPT mendorong berbagai langkah sederhana namun berdampak untuk mencegah radikalisme digital, seperti memperbanyak konten positif di media sosial.
Penguatan pendidikan karakter dan nasionalisme di sekolah juga dinilai penting untuk membangun ketahanan anak terhadap pengaruh ekstremisme.
Selain itu, peningkatan literasi digital di lingkungan keluarga dianggap menjadi langkah strategis untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas juga dinilai penting dalam memperkuat pencegahan radikalisme di ruang digital.
Peneliti FKPT Bangka Belitung, Dinar Pratama, menegaskan peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam upaya pencegahan radikalisme.
"Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Anak perlu didampingi agar tidak mudah terpengaruh," tutur Dinar.
Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa Indeks Potensi Radikalisme di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menurun menjadi 13,7.
Meski indeks menurun, ancaman radikalisme di ruang digital tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
Forum Kajian Senin Kamis tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari unsur aparat keamanan, pemerintah daerah, hingga akademisi.
Hasil survei mengenai pengawasan terhadap anak diharapkan tidak hanya menjadi data, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.
- Penulis :
- Arian Mesa





