HOME  ⁄  Nasional

Warga Aceh Tamiang Bangkit dari Banjir, Kepala Desa Minta Bantuan Fokus Pemulihan Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Warga Aceh Tamiang Bangkit dari Banjir, Kepala Desa Minta Bantuan Fokus Pemulihan Ekonomi
Foto: (Sumber: Seorang anak meminum susu di area terdampak bencana Gampong Batang Ara, Aceh Tamiang, Aceh. ANTARA/HO/dok.pri..)

Pantau - Warga Gampong Batang Ara, Kabupaten Aceh Tamiang, masih berjuang memulihkan kehidupan dan ekonomi mereka lima bulan setelah banjir besar menerjang wilayah tersebut pada akhir 2025.

Bencana itu menghancurkan banyak rumah warga hingga sebagian hanyut terbawa arus, sementara sejumlah keluarga masih bertahan di hunian sementara dan sebagian lainnya memilih kembali ke desa untuk membangun tempat tinggal seadanya.

Kepala Desa Batang Ara, Amril, mengatakan sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari kebun sawit yang kini ikut terdampak banjir dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif.

“Rumah lama di sana, hanyut sudah,” ungkap Amril saat menunjukkan lokasi rumahnya yang hilang akibat banjir.

Warga Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi

Amril menjelaskan kondisi ekonomi warga menjadi persoalan paling berat setelah bencana berlalu karena bantuan logistik mulai berkurang, sementara sumber penghasilan utama belum kembali normal.

“Di sini kami cuma bisa mengandalkan sawit, karena memang sebagian besar masyarakat kerja di kebun sawit. Tapi karena bencana ini, tanaman sawit harus diperbarui dulu, setelah tiga sampai empat tahun lagi baru bisa panen,” katanya.

Menurutnya, warga tetap memilih bertahan di desa karena kebun sawit menjadi satu-satunya sumber penghidupan yang dimiliki masyarakat setempat.

Dengan memanfaatkan kayu hanyut dan sisa material bangunan, Amril bahkan mendirikan pondok sederhana di dekat lokasi rumah lamanya.

Ia juga mengaku sempat mencoba menanam sayuran menggunakan polybag, namun upaya tersebut gagal karena tanaman dimakan ternak yang berkeliaran bebas di desa.

Bantuan Diharapkan Fokus pada Pemberdayaan

Amril berharap bantuan yang datang ke desanya tidak lagi hanya bersifat konsumtif, tetapi lebih diarahkan untuk membangun kembali kemandirian ekonomi masyarakat.

“Saya bukannya menolak donasi, tapi kalau ada yang mau membantu gampong kami ini, saya harap bantuan yang bisa membuat kami berdaya ekonomi lagi. Misalnya bibit ayam, bebek, atau pelatihan-pelatihan yang mengajarkan masyarakat menghasilkan peluang usaha,” ujarnya.

Ia menyebut sedikitnya 177 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa masih membutuhkan perhatian serius pascabanjir.

Dari jumlah tersebut terdapat 51 balita dan puluhan anak usia sekolah yang juga memerlukan dukungan pemulihan gizi dan ekonomi keluarga.

Penulis :
Aditya Yohan