
Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau seluruh lembaga pendidikan mengembangkan pendekatan ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk menciptakan ekosistem pendidikan sosial yang tangguh.
Imbauan itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri kegiatan Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama di Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
“Saya mengimbau lembaga pendidikan mana pun, mari kita kembangkan ekoteologi dan Kurikulum Cinta. Mari kita menjadi contoh bagi dunia internasional bahwa cinta adalah jalan penyelesaian terbaik di atas semua masalah yang ada,” kata Nasaruddin.
Menag menyebut sekitar 305 ribu guru agama dari berbagai agama telah memberikan testimoni positif terkait penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan pendidikan.
“Luar biasa, saya sampai merinding mendengarnya. Dari Sabang sampai Merauke, mereka bercerita, semenjak Kurikulum Cinta ini diterapkan, anak-anak menyayangi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan menyayangi seluruh alam semesta ini. Selama ini, alam hanya dijadikan sebagai objek,” ujarnya.
KBC Diterapkan Secara Nasional
Sebelumnya, Kementerian Agama menggelar pelatihan daring Kurikulum Berbasis Cinta berskala nasional yang diikuti 305 peserta dari kalangan guru, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum.
Kurikulum Berbasis Cinta dirancang untuk memperkenalkan konsep Panca Cinta kepada peserta didik.
Konsep tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada lingkungan, cinta kepada ilmu pengetahuan, serta cinta kepada tanah air.
Ruang Kelas Disebut Lebih Humanis
Nasaruddin mengatakan penerapan kurikulum tersebut selama masa uji coba satu tahun mampu mengubah suasana belajar menjadi lebih membahagiakan bagi siswa.
Menurut dia, ruang kelas kini mulai bertransformasi menjadi taman belajar yang memerdekakan jiwa anak-anak.
Kementerian Agama berharap pendekatan pendidikan berbasis cinta dapat menjadi solusi untuk memperkuat karakter generasi muda sekaligus menjaga harmoni sosial di Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





