
Pantau - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta atau Dinkes DIY terus meningkatkan kewaspadaan dini untuk mengantisipasi dan mencegah risiko penularan hantavirus di wilayah Yogyakarta.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus positif hantavirus di DIY berdasarkan hasil surveilans sentinel rutin laboratorium selama 2026.
“Pada 2026, sampai saat ini belum ada laporan kasus positif hantavirus dari hasil surveilans sentinel rutin di laboratorium. Namun, kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan secara aktif bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota,” kata Anung.
Hantavirus dijelaskan sebagai penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus.
Meski memiliki jalur penularan yang mirip dengan leptospirosis, hantavirus dan leptospirosis disebabkan oleh agen penyakit yang berbeda.
Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira, sedangkan hantavirus disebabkan virus Hanta.
Penularan hantavirus dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi.
Masyarakat juga diminta waspada terhadap droplet dari kotoran tikus yang terhirup serta paparan air dan tanah yang tercemar.
“Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, masyarakat juga perlu waspada terhadap droplet dari kotoran tikus yang terhirup maupun paparan air dan tanah yang tercemar,” ujar Anung.
Untuk menekan risiko penularan, Dinkes DIY mengimbau masyarakat tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat atau PHBS.
Langkah pencegahan sederhana yang dianjurkan meliputi menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus, menutup makanan dan sumber air, mencuci tangan memakai sabun setelah beraktivitas, serta menggunakan alas kaki di area lembap.
Dinkes DIY bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat surveilans aktif melalui pelacakan kasus, pemantauan wilayah sekitar domisili penderita, dan surveilans sentinel rutin.
“Sebagai langkah antisipasi, Dinkes DIY bersama kabupaten dan kota terus memperkuat surveilans aktif melalui pelacakan kasus, pemantauan wilayah sekitar domisili penderita, hingga surveilans sentinel rutin untuk kewaspadaan dini,” kata Anung.
Edukasi mengenai pengendalian tikus dan pentingnya sanitasi lingkungan juga terus dilakukan melalui puskesmas dan kader kesehatan.
Dinkes DIY meminta masyarakat tidak panik tetapi tetap waspada terhadap gejala seperti demam, nyeri otot, sesak napas, atau keluhan lain setelah terpapar lingkungan berisiko.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada. Jika mengalami gejala, seperti demam, nyeri otot, sesak napas, atau keluhan lain setelah terpapar lingkungan berisiko, maka segera periksa ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan optimal,” ujar Anung.
Berdasarkan data Dinkes DIY, sepanjang 2025 terdapat enam kasus positif hantavirus di Yogyakarta.
Rinciannya terdiri atas tiga kasus di Sleman, dua kasus di Bantul, dan satu kasus di Kota Yogyakarta.
Seluruh pasien pada kasus 2025 dinyatakan sembuh tanpa adanya kematian maupun penularan lanjutan.
- Penulis :
- Gerry Eka





