
Pantau - Pemerintah Kota Surabaya menambah delapan rumah pompa baru pada 2026 sebagai upaya memperkuat pengendalian banjir di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan dan berkurangnya ruang resapan air.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam strategi menghadapi banjir yang kini tidak lagi dianggap sebagai persoalan musiman, melainkan dampak serius dari perkembangan kota modern.
Dalam telaah yang ditulis Abdul Hakim, rumah pompa disebut menjadi garis pertahanan terakhir saat hujan deras mengguyur Surabaya dan memicu genangan di jalan maupun kawasan permukiman.
Rumah Pompa Jadi Penjaga Kota
Rumah pompa berfungsi memindahkan air dari kawasan rendah menuju sungai besar atau laut agar genangan tidak meluas.
Keberadaan sistem tersebut membuat Surabaya dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi ancaman banjir dan rob dibanding sejumlah kota pesisir lainnya.
Pertumbuhan kota yang pesat disebut memicu penyusutan ruang resapan air sehingga air hujan lebih cepat mengalir ke drainase dan menyebabkan genangan ketika kapasitas saluran tidak lagi memadai.
Rumah pompa juga disebut bukan hanya sekadar infrastruktur penyedot air, melainkan simbol kesiapan kota membaca tantangan masa depan.
Pengendalian Banjir Perlu Strategi Menyeluruh
Selain pembangunan rumah pompa, kota dinilai memerlukan desain besar pengelolaan air yang berkelanjutan.
Perlindungan ruang hijau, revitalisasi sungai, pengendalian pembangunan, hingga edukasi publik disebut harus berjalan berdampingan dengan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.
Telaah tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kota menghadapi banjir tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan di tengah urbanisasi yang terus berkembang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





