HOME  ⁄  Nasional

Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan Jajaki Kerja Sama Energi Hijau hingga Pengembangan PLTA Raksasa

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan Jajaki Kerja Sama Energi Hijau hingga Pengembangan PLTA Raksasa
Foto: Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat saat kunjungan kerja ke Polda Riau (sumber: Polda Riau)

Pantau - Mohammad Jumhur Hidayat mendukung rencana strategis kerja sama energi hijau antara Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan yang akan dibahas melalui Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antar pemerintah ketiga negara.

Rencana tersebut disampaikan oleh Fadjroel Rachman sebagaimana tertuang dalam siaran pers KBRI Astana yang menyebut kerja sama itu merupakan tindak lanjut dari sejumlah pertemuan di Kazakhstan dan Tajikistan.

Pertemuan tersebut membahas isu air, perubahan iklim, hingga agenda Regional Ecological Summit 2026 di Kazakhstan.

Fokus Kerja Sama Lingkungan dan Energi Hijau

Jumhur menilai Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan memiliki kesamaan visi dan misi yang dapat dikolaborasikan dalam berbagai sektor lingkungan dan energi hijau.

“Ketiga negara memiliki kesamaan visi dan misi terkait perubahan iklim, air, pengelolaan sampah, energi hijau dan investasi hijau, seperti yang disampaikan Dubes Fadjroel, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik, dekarbonisasi smelter, serta potensi PLTA raksasa di Kayan Kalimantan Utara dan Mamberamo di Papua,” ungkap Jumhur.

Bidang kerja sama yang dibahas meliputi perubahan iklim, pengelolaan air, pengelolaan sampah, energi hijau, investasi hijau, pengolahan sampah menjadi energi listrik, dekarbonisasi smelter, hingga pengembangan pembangkit listrik tenaga air atau PLTA.

Jumhur menyebut kesamaan agenda tersebut dapat menjadi dasar penguatan kerja sama selatan-selatan atau South-South Cooperation on Environment.

“Kami tidak hanya berbicara di atas kertas. Kami sepakat dengan Pak Dubes untuk merumuskan ruang lingkup MoU G to G yang akan mencakup transfer pengetahuan, investasi hijau, dan proyek percontohan,” kata Jumhur.

Pengembangan PLTA dan Pendanaan Investasi Hijau

Fadjroel menyebut salah satu poin penting dalam kerja sama tersebut adalah potensi pengembangan PLTA skala besar yang melibatkan pengalaman teknis Tajikistan dalam pembangunan bendungan dan sistem hidroelektrik di kawasan pegunungan.

Ia mengingatkan kerja sama bilateral di bidang air telah mulai dirintis sejak 2024 oleh Presiden Joko Widodo.

“Terkait kerjasama PLTA, Presiden Jokowi pernah bertemu PM Tajikistan Kokhir Rasulzoda pada World Water Forum 2024 di Bali. Potensi ekonomi hijau ini dapat juga memanfaatkan Free Trade Agreement Indonesia - Eurasian Economic Union yang ditandatangani 21 Desember 2025 lalu,” ujar Fadjroel.

Fadjroel mencontohkan proyek Bendungan Norak di Tajikistan yang memiliki kapasitas terpasang 3.000 MW serta Bendungan Rogun yang disebut sebagai bendungan tertinggi di dunia dengan kapasitas terpasang direncanakan mencapai 3.780 MW.

Ia juga berharap Jumhur dapat menghadiri berbagai forum internasional terkait lingkungan dan air seperti 2026 UN Water Conference dan UNFCCC COP31 2026.

Selain kerja sama antar pemerintah, Fadjroel turut mendorong penjajakan skema pendanaan inovatif melalui investasi hijau yang melibatkan BUMN ketenagalistrikan serta badan usaha swasta dari Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan.

“Ini bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah action-oriented partnership. Dunia sedang bergerak cepat menuju energi hijau dan ekonomi sirkular. Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan dapat bergerak bersama menuju dunia yang lebih baik,” kata Fadjroel.

Penulis :
Arian Mesa