HOME  ⁄  Nasional

Hunian di Surabaya Kian Mahal, Rusunami untuk Gen Z Dinilai Jadi Solusi Masa Depan Kota

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Hunian di Surabaya Kian Mahal, Rusunami untuk Gen Z Dinilai Jadi Solusi Masa Depan Kota
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) di Romokalisari, Kota Surabaya ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya..)

Pantau - Harga hunian di Surabaya yang terus melambung membuat generasi muda, khususnya Generasi Z, semakin sulit memiliki rumah di kota tempat mereka bekerja sehingga Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan program rumah susun sederhana milik atau rusunami dengan harga mulai Rp100 juta hingga di bawah Rp500 juta.

Program rusunami itu direncanakan dibangun di sejumlah kawasan seperti Rungkut, Tambak Wedi, dan Ngagel untuk memberikan akses hunian yang lebih terjangkau bagi anak muda perkotaan.

Fenomena mahalnya hunian di Surabaya dinilai membuat banyak anak muda hanya menjadikan kota sebagai tempat bekerja tanpa mampu menetap secara mandiri.

Penulis artikel Abdul Hakim menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi masa depan kota besar seperti Surabaya.

“Di Kota Surabaya, mencari rumah perlahan berubah menjadi perlombaan yang melelahkan,” tulis Abdul Hakim dalam artikel ANTARA, Selasa (12/5).

Rusunami Dinilai Sesuai Kebutuhan Generasi Muda

Pemerintah Kota Surabaya dinilai mulai memahami kebutuhan generasi muda dengan menghadirkan konsep rusunami yang berbeda dari rumah susun pada umumnya.

Rusunami itu disebut akan memiliki unit dua kamar, fasilitas lift, integrasi transportasi, hingga skema pembiayaan ringan agar lebih mudah dijangkau masyarakat muda.

Konsep tersebut dianggap penting karena persoalan hunian tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga berdampak pada mobilitas sosial, kesehatan mental, hingga produktivitas kerja.

“Hunian berkaitan dengan mobilitas sosial, kesehatan mental, produktivitas kerja, hingga kualitas keluarga muda,” tulisnya.

Kota Global Dinilai Harus Tetap Ramah untuk Warganya

Surabaya yang tengah berkembang menuju kota global disebut harus tetap memberikan ruang hidup yang layak dan terjangkau bagi generasi mudanya.

Artikel tersebut menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur dan layanan modern tanpa dukungan hunian terjangkau justru dapat menciptakan paradoks di tengah kemajuan kota.

“Surabaya tampaknya membaca situasi itu lebih awal,” ungkap Abdul Hakim.

Ia juga menegaskan rusunami tidak boleh hanya menjadi proyek hunian murah semata tanpa dukungan fasilitas memadai.

“Karena itu, rusunami Gen Z tidak boleh berhenti pada konsep ‘hunian murah’,” tulisnya.

Penulis :
Aditya Yohan