
Pantau - Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) mengungkapkan hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun lebih memilih melakukan swadiagnosis saat mengalami gangguan kesehatan dibanding langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Ketua Peneliti dan Pendiri HCC dr. Ray Wagiu Basrowi mengatakan fenomena tersebut kini menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat urban modern.
“Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi "dokter pertama" bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ungkap Ray di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Penelitian dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 menggunakan pendekatan mixed-method terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Ray menyebut fenomena self-diagnosis menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya kelelahan sistemik atau system fatigue di masyarakat urban.
“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” katanya.
Internet dan AI Jadi Sumber Utama Swadiagnosis
HCC menemukan Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama masyarakat melakukan swadiagnosis, diikuti situs kesehatan dan berbagai konten digital lainnya.
Keluhan yang paling banyak dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.
Fenomena tersebut disebut sejalan dengan istilah global cyberchondria, yakni kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis berlebihan di internet.
Penelitian itu juga menemukan sebanyak 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi tanpa berkonsultasi ke dokter.
Selain itu, sebanyak 27 persen responden mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi yang ditemukan di internet.
Menariknya, sekitar 57 persen hasil swadiagnosis responden ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter.
“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dianggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis,” ujar Ray.
Literasi Kesehatan Digital Dinilai Mendesak
Penelitian HCC juga menunjukkan responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding kelompok lainnya.
Lebih dari separuh responden mengaku merasa lebih nyaman melakukan swadiagnosis karena dianggap lebih praktis, hemat biaya, dan tidak perlu antre di fasilitas kesehatan.
Ray menilai sistem kesehatan modern kini tidak hanya menghadapi tantangan penyakit, tetapi juga derasnya arus informasi digital.
“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” katanya.
HCC menilai peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru di tengah perkembangan AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan masyarakat.
Penelitian itu juga memperlihatkan meski tingkat kepercayaan terhadap dokter masih relatif tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





