
Pantau - Belanda dilaporkan masih mengimpor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Rusia sebesar 12 persen dari total impor energi pada awal 2026 meski Uni Eropa telah menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Moskow.
Data tersebut diungkap Institut Ekonomi Energi dan Analisis Keuangan atau IEEFA.
“Itu jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan,” kata pakar energi Jilles van den Beukel kepada NOS News, Rabu.
Belanda menjadi satu dari lima negara Uni Eropa yang masih mengimpor LNG Rusia bersama Spanyol, Prancis, Belgia, dan Portugal.
Uni Eropa Bersiap Hentikan Impor LNG Rusia
Data IEEFA muncul ketika Uni Eropa terus melanjutkan rencana penghentian bertahap impor LNG Rusia akibat perang di Ukraina.
Selama tiga bulan pertama 2026, tercatat sebanyak 44 kapal tanker LNG dari Amerika Serikat dan enam kapal dari Rusia tiba di Pelabuhan Rotterdam.
Namun, tujuan akhir sebagian pengiriman energi di Eropa masih belum diketahui.
Uni Eropa telah memutuskan melarang impor LNG Rusia mulai awal 2027.
Sementara pembatasan impor gas Rusia melalui jaringan pipa diperkirakan mulai diterapkan pada musim gugur 2026.
Blok Eropa juga melarang kontrak pasokan gas baru dengan Rusia meski sejumlah perjanjian jangka panjang masih tetap berlaku.
AS Jadi Pemasok Utama Energi Eropa
Menurut IEEFA, LNG kini menjadi bagian penting dalam sistem keamanan energi Eropa dengan Amerika Serikat muncul sebagai pemasok utama.
Perusahaan milik negara Belanda Energie Beheer Nederland juga mengalokasikan dana sebesar 20 miliar euro atau sekitar Rp409,7 triliun untuk mengisi cadangan gas nasional.
Pada 23 April lalu, Uni Eropa mengadopsi paket sanksi ke-20 terhadap Rusia yang mencakup 120 penetapan baru di sektor energi, industri militer, jasa keuangan, hingga mata uang kripto.
Uni Eropa juga memberlakukan larangan transaksi terhadap 20 bank Rusia serta menjatuhkan sanksi tambahan kepada 46 kapal yang disebut sebagai “armada bayangan” Rusia.
- Penulis :
- Aditya Yohan





