HOME  ⁄  Nasional

BPH Migas Gandeng UGM Kawal Distribusi BBM Subsidi agar Tepat Sasaran dan Tepat Manfaat

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BPH Migas Gandeng UGM Kawal Distribusi BBM Subsidi agar Tepat Sasaran dan Tepat Manfaat
Foto: Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan kuliah umum di Sekolah Vokasi Departemen Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta, Rabu 13/5/2026 (sumber: Humas BPH Migas)

Pantau - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengawal pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) subsidi agar tepat sasaran, tepat volume, dan tepat manfaat bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Anggota Komite BPH Migas Wahyudi Anas dalam kuliah umum di Sekolah Vokasi Departemen Ekonomika dan Bisnis UGM Yogyakarta pada Rabu, 13 Mei 2026.

Wahyudi mengatakan generasi muda dan kalangan akademisi perlu memahami tata kelola distribusi BBM subsidi, kompensasi, hingga BBM nonsubsidi yang digunakan masyarakat.

“Kami menyampaikan peran dan fungsi BPH Migas serta urgensi tata kelola regulasi penyaluran BBM, baik itu BBM subsidi dan kompensasi, maupun jenis bahan bakar umum yang dikonsumsi masyarakat,” ungkap Wahyudi.

Akademisi Didorong Terlibat dalam Pengawasan Distribusi BBM

Wahyudi menilai civitas academica memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada publik mengenai pentingnya penghematan energi nasional.

Ia menyebut penggunaan energi secara bijak menjadi bagian dari upaya menuju swasembada energi nasional.

Menurutnya, kajian di lingkungan kampus dibutuhkan agar kebijakan subsidi BBM semakin tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat yang berhak menerima.

Tujuan penguatan pengawasan tersebut agar distribusi BBM di berbagai wilayah berjalan optimal dan masyarakat tidak mengalami hambatan akses energi.

“Ini penting, UGM juga melakukan monitoring pemantauan terhadap penyaluran BBM agar tepat sasaran maupun tepat manfaat kepada masyarakat,” ujar Wahyudi.

Ia menjelaskan kolaborasi dengan UGM penting untuk memperkuat pemahaman generasi muda terkait peran negara dalam penyediaan dan distribusi BBM.

Wahyudi menambahkan masyarakat, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum juga dapat dilibatkan dalam pengawasan distribusi BBM subsidi.

Tantangan Distribusi BBM di Wilayah 3T

Dalam paparannya, Wahyudi mencontohkan tantangan distribusi BBM di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Ia menjelaskan pengiriman BBM menuju wilayah perbatasan dengan Serawak, Malaysia dilakukan menggunakan pesawat Air Tractor dari Bandara Juwata dengan frekuensi maksimal tiga kali sehari.

Sementara jalur darat menuju wilayah tersebut harus ditempuh selama dua hingga tiga hari melalui medan berat, ekstrem, dan berisiko tinggi.

“Penyediaan BBM hingga wilayah 3T merupakan tugas negara. Dengan risiko yang sangat tinggi untuk dapat mengirimkan BBM bagi masyarakat yang benar-benar sulit terjangkau,” kata Wahyudi.

Pemerintah disebut terus memperkuat tata kelola penyaluran BBM subsidi dan kompensasi sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

BPH Migas memastikan subsidi energi tersalurkan tepat sasaran, tepat volume, dan tepat manfaat kepada masyarakat.

Wahyudi menjelaskan realisasi penyaluran BBM subsidi dan kompensasi sepanjang 2025 tetap terkendali dan berada di bawah alokasi APBN yang telah ditetapkan pemerintah.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan penguatan pengawasan dan pengendalian distribusi BBM yang dilakukan secara menyeluruh.

“Kita kawal bersama agar prinsip pelayanan kepada masyarakat yang melaksanakan dan melakukan kegiatan ekonomi di tingkat daerah dapat berjalan dengan lancar,” tutur Wahyudi.

Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mendorong civitas academica UGM memberikan masukan kepada BPH Migas terkait asas keadilan sosial dan kemandirian energi nasional.

Direktur Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono mengatakan distribusi BBM merupakan isu kompleks yang perlu dipahami dunia akademik agar mampu menghasilkan solusi berbasis data dan kajian.

“Kami berharap kolaborasi ini diteruskan untuk membentuk working group kelompok kerja yang fungsinya untuk memprediksi perkembangan ke depan dengan berbagai data yang dikumpulkan. Agar kita dapat mempersiapkan sedini mungkin apa yang akan terjadi baik secara ekonomi, sosial maupun hal lainnya,” ujar Agus.

Sementara itu, mahasiswa Sekolah Vokasi UGM Gilang Prayoga mengatakan kuliah umum tersebut memberikan wawasan baru mengenai pengendalian dan pengawasan distribusi BBM di Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa