
Pantau - ASEAN dinilai menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan energi dan pangan kawasan di tengah sistem global yang semakin tidak stabil akibat krisis geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional.
Krisis di Timur Tengah disebut menjadi cermin bahwa Asia Tenggara tidak lagi berada di pinggiran sistem global, melainkan terhubung erat dengan jaringan energi dan pangan dunia yang bergerak semakin volatil dan sulit diprediksi.
Gejolak harga minyak, gangguan jalur pelayaran, hingga tekanan terhadap rantai pasok pangan kini dinilai bukan sekadar dampak sampingan geopolitik, tetapi telah menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi kawasan.
Dalam kondisi tersebut, ketahanan ASEAN disebut tidak lagi ditentukan oleh jarak geografis dari pusat konflik, melainkan oleh kekuatan kawasan dalam menghadapi keterhubungan sistem global yang semakin rapuh.
KTT ASEAN Soroti Perubahan Ancaman Global
Kesadaran terhadap risiko global mulai terlihat dalam KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, yang menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis terkait penguatan energi dan pangan kawasan.
Pertemuan tersebut dinilai menandai perubahan cara pandang ASEAN terhadap ancaman global yang kini dianggap sebagai kondisi permanen dalam sistem ekonomi dunia.
Fokus utama kawasan tidak lagi hanya pada konsensus kebijakan, tetapi juga pada upaya membangun ketahanan di tengah ketidakstabilan global yang terus meningkat.
Kesepakatan memperkuat ketahanan energi dan pangan disebut menunjukkan pergeseran pendekatan ASEAN dari pola sektoral menuju pengelolaan risiko yang melihat energi, pangan, dan logistik sebagai satu rantai ketergantungan yang saling terhubung.
Namun, perubahan perspektif tersebut dinilai belum diikuti transformasi kelembagaan yang memadai di tingkat kawasan.
Agenda seperti cadangan pangan regional, interkoneksi energi, dan koordinasi logistik masih disebut sebatas desain koordinatif tanpa kemampuan eksekusi tunggal ketika krisis terjadi.
ASEAN Dinilai Belum Punya Mesin Kolektif Hadapi Krisis
Sebagian besar instrumen ASEAN disebut masih bergerak dalam logika nasional masing-masing negara dan belum menjadi kapasitas kolektif yang mampu bertindak cepat secara serempak.
Permasalahan utama kawasan dinilai bukan lagi kekurangan kesepakatan politik, tetapi absennya mekanisme bersama yang dapat mengubah konsensus menjadi tindakan konkret saat situasi darurat terjadi.
ASEAN disebut kini menghadapi pilihan yang semakin sempit, yakni melakukan adaptasi mendasar atau perlahan kehilangan relevansi di tengah perubahan sistem global yang bergerak lebih cepat dibanding kapasitas institusinya.
Kondisi tersebut membuat penguatan solidaritas dan integrasi kawasan dinilai semakin penting untuk menjaga stabilitas energi dan pangan Asia Tenggara di masa mendatang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





