
Pantau - Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Prof. Dr. Imamudin Yuliadi menilai Program Makan Bergizi Gratis atau MBG dapat menjadi bantalan pasar untuk menahan dampak kelebihan produksi telur ayam ras yang menyebabkan harga di tingkat peternak menurun.
Imamudin mengatakan peningkatan konsumsi telur melalui program MBG berpotensi menjadi solusi jangka pendek bagi peternak ayam petelur yang terdampak overproduksi.
“Program MBG bisa menjadi bantalan pasar. Ketika produksi telur melimpah dan harga turun, negara hadir melalui skema penyerapan untuk menjaga keseimbangan harga sekaligus melindungi peternak,” kata Imamudin di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian mendorong optimalisasi penggunaan telur dalam menu MBG untuk menjaga stabilitas harga telur ayam ras di tingkat produsen.
Program MBG Dinilai Beri Efek Berganda bagi Ekonomi
Imamudin menilai dampak positif MBG tidak hanya berlaku pada komoditas telur, tetapi juga dapat menggerakkan sektor pangan lain seperti beras, sayuran, garam, bumbu dapur, hingga daging.
“Kalau fenomena telur bisa terjadi, berarti komoditas lain juga bisa ikut bergerak. Ini sinyal positif sebuah program. Dari sisi ekonomi, ada multiplier effect yang nyata,” ujarnya.
Menurut dia, Program MBG dapat menjadi penghubung antara pemenuhan gizi siswa dengan penguatan ekonomi rakyat melalui penyerapan produk lokal dari petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM.
Namun, ia mengingatkan pemerintah perlu memperkuat komunikasi publik agar program tersebut tidak memicu spekulasi kenaikan harga bahan pokok akibat meningkatnya permintaan pangan nasional.
Imamudin juga menilai dampak ekonomi MBG berbeda di setiap daerah tergantung kondisi pasar dan kapasitas produksi lokal.
Evaluasi dan Kolaborasi Dinilai Penting
Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan pelaku usaha lokal.
Evaluasi tersebut mencakup rantai pelaksanaan mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi, pengolahan, hingga makanan diterima siswa.
“Kalau dikelola benar, manfaat MBG bukan hanya untuk siswa. Program ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.
Imamudin juga meminta pemerintah aktif menjelaskan dampak ekonomi program MBG kepada masyarakat agar tidak muncul spekulasi terkait utang negara.
“Kalau ada tuduhan MBG memperbesar utang maka jawabannya harus berbasis data. Sejauh mana MBG meningkatkan kesehatan siswa, konsentrasi belajar, prestasi belajar, kesehatan fisik, lalu sejauh mana program ini menyerap komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan. Itu yang perlu dijelaskan pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan program MBG membutuhkan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, kampus, dan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
- Penulis :
- Aditya Yohan





