
Pantau - Pemerhati lingkungan sekaligus akademisi Universitas Udayana Prof Ni Luh Kartini menyoroti penurunan kualitas air danau-danau di Bali akibat pencemaran, sedimentasi, serta aktivitas manusia di kawasan sekitar danau.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof Kartini di Denpasar, Bali, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia mengungkapkan sebagian besar danau di Bali yang berada di kawasan pertanian menghadapi ancaman serius akibat penggunaan pestisida, pupuk kimia, limbah domestik, dan erosi lahan.
Kondisi tersebut menyebabkan eutrofikasi atau meningkatnya kesuburan perairan yang berdampak pada menurunnya kadar oksigen di dalam air.
“Kalau dilihat sekarang, air Danau Batur sudah mulai berwarna hijau. Itu artinya kandungan oksigennya menurun dan menyebabkan kematian ikan,” ujarnya.
Empat danau besar di Bali yang terdampak yakni Danau Beratan, Danau Tamblingan, Danau Batur, dan Danau Buyan.
Sedimentasi Sebabkan Pendangkalan Danau
Prof Kartini menjelaskan hasil analisis sejumlah parameter menunjukkan beberapa danau di Bali kini berada pada kategori kelas tiga menuju kelas empat apabila tidak segera ditangani secara serius.
Selain pencemaran, sedimentasi disebut menjadi persoalan utama yang menyebabkan pendangkalan danau.
Ia mengungkapkan kedalaman Danau Buyan yang sebelumnya mencapai sekitar 140 meter kini tinggal sekitar 80 meter.
Sementara Danau Batur yang sebelumnya memiliki kedalaman sekitar 120 meter kini berkisar antara 64 hingga 80 meter.
“Sedimentasi tersebut turut berdampak pada menurunnya debit mata air yang selama ini menjadi sumber air bagi masyarakat,” katanya.
Prof Kartini juga menyoroti keberadaan keramba jaring apung dan ikan invasif jenis red devil di Danau Batur yang dinilai mengancam ikan lokal endemik.
“Ikan red devil mampu hidup di kondisi oksigen rendah sehingga sangat cepat berkembang dan menghabiskan ikan lokal,” ujarnya.
Pemerintah dan Masyarakat Diminta Perkuat Kolaborasi
Untuk memulihkan ekosistem danau, Prof Kartini meminta penerapan sistem pertanian organik di kawasan sekitar danau serta pengelolaan limbah domestik dan sampah secara terpadu.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan pembangunan di sempadan danau serta penegakan hukum secara konsisten melalui penerapan reward and punishment.
Menurutnya, pemerintah telah menunjukkan keseriusan melalui pembentukan kelompok kerja percepatan penanganan sampah dan lingkungan.
Namun, upaya tersebut dinilai masih membutuhkan pendampingan intensif kepada masyarakat.
“Masalah lingkungan ini sangat terkait dengan pembangunan karakter dan kesadaran masyarakat sehingga tidak bisa hanya mengandalkan aturan saja,” katanya.
Saat ini masyarakat di kawasan Danau Batur juga mulai membentuk forum pelestarian danau yang melibatkan desa-desa sekitar untuk menjaga ekosistem secara berkelanjutan.
“Pelestarian danau tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi semua pihak,” tegasnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





