HOME  ⁄  Nasional

Gubernur Papua Tinjau Gudang Kopra di Sarmi, Koperasi Yora Mekhande Jaya Kirim 60 Ton ke Surabaya

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Gubernur Papua Tinjau Gudang Kopra di Sarmi, Koperasi Yora Mekhande Jaya Kirim 60 Ton ke Surabaya
Foto: (Sumber: Gubernur Papua Mathius Fakhiri (kemeja kotak-kotak) berbincang dengan Bendahara Koperasi Yora Mekhande Jaya, Jamina Rumbewas (kemeja hitam) dan pekerja Koperasi di gudang kopra. (Yayasan EcoNusa). ANTARA/HO..)

Pantau - Gubernur Papua Mathius Fakhiri bersama Bupati Sarmi Dominggus Catue meninjau gudang kopra Koperasi Yora Mekhande Jaya di Kampung Anus, Kabupaten Sarmi, Papua, untuk melihat langsung proses produksi dan distribusi kopra hasil masyarakat setempat.

Kunjungan tersebut dilakukan pada Kamis, 14 Mei 2026, sekaligus menjadi ajang dialog antara pemerintah daerah dengan pengurus koperasi dan para pekerja.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Papua mengapresiasi peran koperasi dalam mendorong pengembangan usaha kopra di wilayah Papua.

“Nanti kasih ingat saya untuk pengiriman akhir Mei,” kata Mathius saat berbincang dengan pengurus koperasi.

Bendahara Koperasi Yora Mekhande Jaya Jamina Rumbewas mengungkapkan koperasi telah mengirimkan sebanyak 60 ton kopra ke Surabaya dalam tiga kali pengiriman sepanjang Januari hingga April 2026.

“Sedangkan pada 2025 kami mengirimkan sekitar 45 ton,” ujarnya.

Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Koperasi Yora Mekhande Jaya berdiri sejak 2022 dan dibentuk oleh masyarakat lokal dengan dukungan Yayasan EcoNusa.

Saat ini koperasi menjadi salah satu penggerak utama pengembangan komoditas kopra di Papua.

Wilayah operasional koperasi mencakup Distrik Bonggo Timur, Bonggo Barat, Pantai Timur Jauh, hingga Jayapura, Biak, Nabire, dan Merauke.

Jamina menjelaskan pemasok terbesar kopra di wilayah Sarmi berasal dari Kampung Kaptiau.

Selain membeli kopra dengan harga lebih tinggi dibanding pengepul, koperasi juga menerapkan sistem barter untuk membantu masyarakat yang kesulitan akses transportasi.

“Karena di sana kendalanya adalah akses yang kurang baik,” katanya.

Sistem Barter Bantu Warga Pedalaman

Sistem barter diterapkan karena warga harus menempuh perjalanan panjang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maupun alat kerja.

Jarak dari Kampung Kaptiau menuju SP 2 Bonggo memerlukan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor, sedangkan menuju Kota Sarmi mencapai sekitar tiga jam perjalanan.

Melalui sistem tersebut, warga dapat menukar hasil kopra dengan kebutuhan sehari-hari yang disediakan koperasi.

“Jarak jauh, harus belanja ke sana, setengah mati,” ujar Herman Makai, warga Kampung Kaptiau.

Dalam kunjungan itu, Gubernur Papua dan Bupati Sarmi juga meninjau proses pembuatan kopra serta menyerap aspirasi pengurus koperasi terkait pengembangan usaha dan distribusi hasil produksi.

Penulis :
Aditya Yohan