
Pantau - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun membantu menjaga permintaan domestik di tengah perlambatan ekonomi.
Rizal mengatakan belanja bantuan sosial, proyek pemerintah, hingga program prioritas menjadi faktor utama yang menopang permintaan dalam negeri pada triwulan I 2026.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik atau BPS, belanja pemerintah tumbuh sebesar 21,81 persen dan berkontribusi 1,26 persen terhadap pembentukan produk domestik bruto atau PDB triwulan I 2026 yang mencapai pertumbuhan 5,61 persen.
“Belanja pemerintah pada triwulan I menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi kelas menengah dan perlambatan manufaktur,” ujar Rizal di Jakarta, Jumat.
Belanja Pemerintah Dinilai Belum Optimal
Meski demikian, Rizal menilai efektivitas belanja pemerintah masih belum optimal karena sebagian besar masih didorong oleh belanja rutin.
Ia menyoroti kondisi sektor manufaktur yang masih melemah dengan Purchasing Managers’ Index atau PMI sempat turun mendekati zona stagnan, sementara daya beli masyarakat masih membutuhkan dukungan tambahan.
“Artinya, fiskal saat ini lebih berfungsi sebagai bantalan perlambatan ekonomi dibanding pendorong ekspansi baru,” kata Rizal.
Menurut dia, dampak belanja pemerintah masih akan menopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan berikutnya, namun ruang akselerasinya mulai terbatas apabila sektor swasta belum pulih secara kuat.
Pemerintah Diminta Fokus pada Belanja Produktif
Rizal menilai strategi front loading Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN cukup membantu menjaga pertumbuhan ekonomi triwulan I tetap berada di atas 5 persen.
Namun, ia menegaskan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kualitas belanja pemerintah.
“Jika belanja hanya mendorong konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat investasi, industri dan penciptaan lapangan kerja, maka efek penggandanya akan cepat melemah,” jelasnya.
Ia merekomendasikan pemerintah memperluas fokus dari percepatan serapan anggaran menuju belanja yang lebih produktif dan memiliki multiplier effect tinggi.
Belanja pemerintah juga dinilai perlu diarahkan untuk menarik investasi domestik guna menjaga pertumbuhan ekonomi semester II tetap stabil dan tidak mengalami moderasi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





