
Pantau - Kementerian Agama Republik Indonesia melaporkan telah mengirimkan 2.199 dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sepanjang 2026 untuk memperkuat pemahaman keagamaan, menanamkan nilai toleransi, dan memperkuat kehidupan sosial masyarakat di pelosok negeri.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi mengatakan realisasi pengiriman dai tahun ini melampaui target awal sebanyak 1.500 orang.
“Dakwah tidak boleh hanya terpusat di wilayah perkotaan,” ungkap Muchlis.
Ia mengungkapkan jumlah peserta program terus meningkat signifikan setiap tahun dibanding awal pelaksanaan program yang hanya diikuti belasan dai.
Menurut Muchlis, sebagian dai yang dikirim ke wilayah 3T bahkan memilih menetap di daerah tugas dan tidak kembali ke daerah asal.
Dakwah Inklusif Menjangkau Pelosok Negeri
Muchlis menegaskan dakwah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri sebagai bagian dari tanggung jawab bersama umat dalam menghadirkan dakwah yang inklusif.
Ia menilai masih terdapat masyarakat di wilayah terpencil yang belum mampu membaca Al Quran dan belum memahami praktik ibadah dengan baik.
“Masih ada masyarakat yang belum bisa membaca Al Quran dan memahami praktik ibadah dengan baik,” katanya.
Karena kondisi tersebut, Kemenag menyatakan program pengiriman dai ke wilayah 3T akan terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang.
Selain memperkuat pemahaman agama, Muchlis menilai dakwah juga memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai persoalan sosial masyarakat seperti ketahanan keluarga, kemiskinan, dan budaya pemborosan makanan.
Ia menyoroti adanya jutaan ton makanan yang terbuang setiap tahun di tengah masih banyak masyarakat mengalami kesulitan makan.
“Dakwah memiliki tugas mengedukasi masyarakat mengenai etika konsumsi dalam Islam,” ujarnya.
Kolaborasi Pemerintah dan Lembaga Filantropi Diperkuat
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono Abdul Ghafur mengatakan sinergi pemerintah bersama Badan Amil Zakat Nasional dan Lembaga Amil Zakat terus diperkuat dalam program pemberdayaan umat.
Menurut Waryono, dukungan tersebut juga diarahkan untuk membantu pengiriman dai ke wilayah 3T serta penguatan sektor pendidikan Islam melalui program beasiswa dan pengembangan sumber daya manusia.
“Keberadaan lembaga zakat dan filantropi semakin penting karena masih banyak masyarakat daerah terpencil membutuhkan perhatian,” kata Waryono.
Ia mencontohkan masih ada masyarakat di pelosok yang menghadapi keterbatasan akses layanan dasar seperti kesehatan.
Waryono menyebut pihaknya menerima banyak laporan dari daerah 3T yang menunjukkan pembangunan Indonesia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan organisasi keagamaan.
Ia berharap kerja sama lintas sektor tersebut dapat terus diperkuat pada masa mendatang.
- Penulis :
- Arian Mesa





