
Pantau - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkuat kolaborasi nasional untuk membangun ekosistem pengumpul zakat yang profesional melalui penyelenggaraan Baznas Fundraising Forum (BFF) dengan mendorong strategi penghimpunan zakat yang berbasis keilmuan, kemudahan, dan transparansi.
Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Rizaludin Kurniawan menyampaikan bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) harus meninggalkan pendekatan penghimpunan yang hanya mengandalkan belas kasihan.
Rizaludin menegaskan bahwa para amil zakat perlu menggunakan strategi penghimpunan yang profesional agar masyarakat menunaikan zakat karena memahami manfaatnya.
"Zakat itu harus dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa atau memelas terlebih dahulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah," kata Rizaludin.
Ia menyebut praktik penghimpunan yang mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat.
Baznas Tekankan Ilmu dan Etika dalam Penghimpunan Zakat
Rizaludin mengatakan bahwa fundraising merupakan profesi yang memiliki landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik yang jelas.
Ia menilai strategi penghimpunan dana ZIS harus disusun berdasarkan pendekatan yang terukur dan tidak hanya mengandalkan empati sesaat.
"Kita harus menggunakan ilmu, jangan sekadar mengira-ngira atau mengandalkan belas kasihan dengan cara menjual ‘air mata’ atau kesusahan orang lain," ungkap Rizaludin.
Menurut dia, terdapat dua pendekatan utama dalam penghimpunan zakat di Indonesia, yaitu pendekatan regulasi (by law) yang didukung kebijakan pemerintah serta pendekatan pemasaran (by marketing) melalui kampanye kreatif dan pelayanan kepada muzaki.
"Di Baznas RI, kita mencoba mengombinasikan kedua hal tersebut agar para pembayar zakat mendapatkan pelayanan, pengalaman, dan perubahan spiritual yang transformatif di dalam dirinya," ujar Rizaludin.
Sebagai lembaga filantropi, Baznas menilai kepercayaan publik dan profesionalisme amil menjadi fondasi utama dalam pengelolaan zakat.
Baznas juga mendorong perluasan kolaborasi dengan pemerintah, ulama, dan berbagai lembaga untuk memperkuat ekosistem zakat nasional.
Aa Gym Soroti Pentingnya Kepercayaan Muzaki
Pembina Yayasan Daarut Tauhid Peduli KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym memaparkan konsep dakwah zakat yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Aa Gym menyebut keberhasilan lembaga pengelola zakat dalam membangun kepercayaan publik bergantung pada empat aspek utama, yaitu layanan yang jelas, menarik, mudah diakses, dan mampu memberikan kepuasan kepada muzaki.
"Kita harus membuat muzaki yang berzakat itu memahami bahwa zakatnya benar-benar sampai kepada yang berhak. Sesuatu yang jelas, menarik, mudah prosedurnya, dan memuaskan akan mendatangkan komitmen, menjadi kebiasaan yang baik, serta bisa menular kepada yang lain," kata Aa Gym.
Baznas juga menilai peningkatan jumlah dan kapasitas amil profesional serta sosialisasi mengenai dampak program zakat perlu terus diperkuat untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Baznas Fundraising Forum (BFF) menjadi salah satu langkah untuk memperkuat sinergi antar lembaga filantropi dalam menciptakan sistem pengelolaan zakat nasional yang lebih profesional.
- Penulis :
- Leon Weldrick





