HOME  ⁄  Nasional

RCCC UI Dorong Integrasi Data untuk Perkuat Pengendalian Polusi Udara

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

RCCC UI Dorong Integrasi Data untuk Perkuat Pengendalian Polusi Udara
Foto: (Sumber: Ketua Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) sekaligus Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan UI Prof Budi Haryanto dalam Seminar Integrasi Data Kualitas Udara dan Dampak Kesehatan di Jakarta, Senin (18/5/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad..)

Pantau - Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) menyerukan integrasi data kualitas udara dan kesehatan guna memperkuat kebijakan pengendalian polusi udara serta pencegahan penyakit di Indonesia.

Integrasi Data Dinilai Penting untuk Sistem Peringatan Dini

Ketua RCCC UI Prof Budi Haryanto mengatakan Indonesia sebenarnya telah memiliki data kualitas udara dan penyakit terkait polusi yang sangat lengkap dan tersedia secara waktu nyata.

Namun, data tersebut masih digunakan secara terbatas karena tersebar di berbagai sektor dan institusi berbeda.

Menurut Budi, penggabungan data kualitas udara, meteorologi, hingga data kesehatan diperlukan untuk membangun sistem peringatan dini atau early warning system yang akurat dan mudah diakses masyarakat.

“Dari data-data kita bersama, kalau diintegrasikan banyak hasil-hasil yang bisa membuktikan bahwa manusia yang tidak pernah bisa memilih-milih dalam bernapas sebenarnya bisa dilindungi dari polusi udara,” ungkap Budi.

Ia menegaskan percepatan kebijakan perlindungan masyarakat dari dampak polusi udara harus segera dilakukan melalui integrasi data lintas sektor.

Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan UI itu juga menyebut integrasi data secara berkelanjutan dapat membantu melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap polusi udara.

Kualitas Udara Disebut Jadi Ukuran Pembangunan

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI Chairul Hudaya menilai kualitas udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan, ekonomi, dan masa depan bangsa.

Ia mengatakan tantangan utama integrasi data bukan sekadar masalah teknis perangkat lunak, melainkan tata kelola dan koordinasi antar lembaga.

“Kualitas udara adalah ukuran dari kualitas pembangunan kita. Data yang baik akan membantu kita memahami masalah. Ilmu pengetahuan dapat membantu kita merumuskan solusi, namun komitmen bersama yang akan menentukan apakah solusi itu benar-benar dijalankan,” ujar Chairul.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Rasio Ridho Sani mengapresiasi peran aktif akademisi dalam mendukung kebijakan lingkungan berbasis data.

Ia menilai ketersediaan data yang valid sangat penting dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah terkait pengendalian polusi udara.

“Proses membangun kebijakan itu tidak mudah, karena ini ada proses power struggle-nya ya. Tapi semuanya itu, power itu bisa berdampak kalau kita punya data,” kata Rasio.

Penulis :
Ahmad Yusuf