
Pantau - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menyebut proyek migas Blok Ganal yang masuk dalam Indonesia Deepwater Development (IDD) memiliki tingkat kesulitan tinggi karena membutuhkan teknologi canggih dan investasi besar.
Kholid mengatakan proyek tersebut termasuk kategori capital intensive, berteknologi tinggi, dan memiliki risiko besar sehingga tidak mudah dijalankan oleh badan usaha milik daerah (BUMD).
“Jika BUMD diberikan hak PI di Blok Ganal, justru akan menjadi masalah bagi daerah tersebut. Ini proyek IDD yang capital intensive, high tech, begitu juga berisiko tinggi. Tentu saja investasinya juga besar, sehingga jadi masalah biasanya,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut dia, BUMD akan kesulitan menyediakan modal besar apabila mendapatkan hak participating interest (PI) pada proyek tersebut.
Participating Interest Dinilai Berisiko bagi BUMD
Kholid menjelaskan dalam skema participating interest, BUMD tidak menjadi operator melainkan hanya menerima manfaat dari kegiatan hulu migas dengan menyetor modal atau equity.
Ia mengatakan dalam praktiknya BUMD biasanya harus mendapatkan talangan dana lebih dulu dari kontraktor hingga proyek mencapai titik balik modal atau pay off.
”Jadi nyicil, ditalangi dulu kemudian bagian BUMD dipotong. Sehingga biasanya tahun pertama sampai ke-6, sampai pay off baru dapat bagian. Jadi baru menikmati hasil setelah pay off," ujarnya.
Karena tingginya risiko proyek IDD, Kholid menilai opsi penawaran kepada BUMN yang memiliki kemampuan finansial lebih besar dapat menjadi alternatif.
“Jadi kalau misalnya ada share yang ingin dilepas, itu mungkin saja. Dan itu saya kira strategi terbaik. Jadi Pertamina sebagai BUMN tidak menanggung risiko eksplorasi," katanya.
Pemprov Kaltim Minta Hak Kelola Migas
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta hak pengelolaan melalui skema participating interest atas temuan cadangan minyak dan gas di Blok Ganal.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur Bambang Arwanto mengatakan pemerintah daerah akan mengajukan permohonan keterlibatan dalam pengelolaan cadangan migas tersebut.
Cadangan migas tersebut ditemukan di Sumur Geliga dan Sumur Gula di wilayah kerja Blok Ganal dengan potensi lebih dari tujuh triliun kaki kubik gas dan sekitar 375 juta barel minyak.
Temuan cadangan gas jumbo itu sebelumnya diumumkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan potensi sekitar 5 triliun kaki kubik gas serta 300 juta barel kondensat yang dioperasikan perusahaan energi asal Italia ENI.
- Penulis :
- Aditya Yohan





