HOME  ⁄  Nasional

Misbakhun Minta Bank Indonesia Jaga Nilai Tukar Rupiah Sesuai Asumsi APBN

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Misbakhun Minta Bank Indonesia Jaga Nilai Tukar Rupiah Sesuai Asumsi APBN
Foto: (Sumber : Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhammad Misbakhun, dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama Gubernur Bank Indonesia di Nusantara I Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Mario/Karisma.)

Pantau - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun meminta Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai asumsi dasar ekonomi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR dalam APBN.

Permintaan tersebut disampaikan Misbakhun dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

DPR Ingatkan BI Hormati Kesepakatan Politik

Misbakhun menegaskan asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN bukan sekadar angka teknis, tetapi merupakan bentuk legitimasi politik yang harus dijaga oleh otoritas moneter.

“Kesepakatan politik terhadap nilai tukar, rata-ratanya, itu di tahun ini di 16.500 Rupiah,” ujarnya.

Ia meminta Bank Indonesia menghormati dan menjaga nilai tukar agar tetap bergerak sesuai target yang telah ditetapkan bersama pemerintah dan DPR.

“Tolong dijaga dan dihormati bahwa kita saat ini, keputusan politik sebagai kesepakatan itu di 16.500,” katanya.

Menurut Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut, kondisi rupiah yang masih berada di kisaran Rp17 ribu per dolar AS menjadi tantangan serius bagi Bank Indonesia.

Ia menilai diperlukan langkah konkret dan upaya luar biasa agar target rata-rata nilai tukar rupiah dapat tercapai hingga akhir tahun.

Misbakhun Singgung Pengalaman Krisis 1998

Dalam rapat tersebut, Misbakhun juga menyinggung pengalaman Indonesia saat menghadapi krisis moneter 1998 hingga 1999.

Ia mengatakan rupiah pernah menguat signifikan meski kondisi ekonomi nasional saat itu tengah mengalami tekanan berat akibat krisis multidimensi.

“Rupiah pernah dalam sebuah sejarah, fundamental ekonomi kita sedang menghadapi tekanan dan kita sedang mengalami situasi krisis yang sangat dalam,” ungkapnya.

“Tahun 1998-1999 dalam waktu singkat, rupiah pernah Rp 6.000. Jamannya Pak Habibie,” lanjutnya.

Misbakhun menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak sepenuhnya ditentukan oleh fundamental ekonomi.

Karena itu, ia mempertanyakan efektivitas rumusan kebijakan yang digunakan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global dan sentimen pasar.

“Artinya apa? Kita tidak pernah bisa menemukan rumusan yang bagus,” pungkasnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf