
Pantau - Aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan Israel usai pencegatan armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza dilaporkan mengalami sengatan listrik, kekerasan fisik, hingga tekanan psikologis selama berada dalam tahanan.
Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, pada Rabu (20/5) menyatakan sedikitnya tiga aktivis harus menjalani perawatan rumah sakit akibat luka serius setelah ditahan aparat Israel.
Adalah juga mengungkapkan puluhan tahanan lainnya diduga mengalami patah tulang rusuk dan kesulitan bernapas akibat tindakan kekerasan selama proses penahanan.
Adalah Ungkap Dugaan Penyiksaan Aktivis
Adalah menyebut tim hukumnya telah mengumpulkan sejumlah kesaksian yang saling menguatkan terkait penggunaan sengatan listrik berulang terhadap para aktivis.
Kelompok tersebut juga mendokumentasikan laporan bahwa para tahanan dipaksa berada dalam posisi menyakitkan dan menghinakan selama dipindahkan menuju Pelabuhan Ashdod.
Para aktivis disebut dipaksa berjalan sambil membungkuk penuh ke depan dan berlutut dalam waktu lama selama proses pemindahan.
Adalah juga menuduh otoritas Israel secara paksa melepas jilbab beberapa aktivis perempuan yang ikut dalam armada bantuan tersebut.
“Tindakan yang dilakukan otoritas Israel merupakan kebijakan kriminal berupa penyiksaan dan penghinaan,” ungkap Adalah.
Informasi mengenai lokasi penahanan, status hukum, dan kondisi para tahanan disebut sangat dibatasi oleh pihak Israel.
Aktivis Akan Hadapi Proses Deportasi
Menurut Adalah, para tahanan dijadwalkan menghadapi pengadilan atau otoritas terkait pada Kamis untuk meninjau status penahanan sebelum proses deportasi dilakukan.
Tuduhan penyiksaan mencuat setelah beredar video yang dibagikan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan sejumlah aktivis berlutut dengan tangan diborgol di belakang punggung dan wajah menghadap lantai saat lagu kebangsaan Israel diputar.
Global Sumud Flotilla sebelumnya dicegat Israel di perairan internasional sebelum seluruh peserta dipindahkan ke Pelabuhan Ashdod.
Armada bantuan itu berangkat dari distrik Marmaris, Turki, pada Kamis lalu sebagai upaya menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.
Pada akhir April lalu, militer Israel juga dilaporkan menyerang kapal armada serupa di dekat Pulau Kreta, Yunani, yang saat itu membawa 345 peserta dari 39 negara.
Israel diketahui masih memberlakukan blokade ketat terhadap Gaza yang dihuni sekitar 2,4 juta penduduk dan disebut berada di ambang kelaparan akibat konflik berkepanjangan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





