
Pantau - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Aceh merestorasi 130 naskah kuno Aceh milik masyarakat di Pidie Jaya dan Aceh Utara yang terdampak banjir pada akhir November 2025.
Kegiatan preservasi dan restorasi manuskrip tersebut berlangsung di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada 19–23 Mei 2026 dengan melibatkan lima konservator dari Perpusnas Jakarta.
Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman mengatakan restorasi dilakukan terhadap manuskrip yang mengalami kerusakan akibat banjir.
“Restorasi manuskrip kuno ini kita lakukan terhadap koleksi masyarakat di Pidie Jaya dan Aceh Utara yang terdampak banjir pada akhir November 2025,” ungkap Mujiburrahman.
Proses Konservasi Manuskrip Dilakukan Bertahap
Ketua Tim Konservasi Perpustakaan Nasional RI Imam Supangat menjelaskan proses konservasi diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan manuskrip.
Manuskrip kemudian dipilah berdasarkan metode perbaikan sebelum dilakukan pendataan dan penanganan konservasi.
Imam mengatakan sebagian manuskrip mengalami kerusakan akibat tingkat kelembapan tinggi yang memicu tumbuhnya jamur sehingga lembaran naskah saling menempel.
Dalam proses restorasi, manuskrip terlebih dahulu dikeringkan menggunakan ruang pengeringan atau chamber.
Bagian manuskrip yang berlubang akan ditambal selama proses konservasi berlangsung.
Naskah yang memiliki kadar asam tinggi juga akan dinetralkan agar kondisi manuskrip tetap terjaga.
Lembaran manuskrip yang terlepas dijahit kembali sebelum dibuatkan sampul dan kotak penyimpanan.
“Setelah seluruh proses restorasi selesai, manuskrip akan diserahkan kembali kepada pemilik koleksi,” kata Imam.
UIN Ar-Raniry Targetkan Basis Data Manuskrip Aceh
Mujiburrahman menjelaskan upaya penyelamatan manuskrip Aceh sebenarnya telah dilakukan sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Aceh.
Kerja sama penyelamatan manuskrip sebelumnya melibatkan Tokyo University of Foreign Studies, Universitas Leipzig, Pemerintah Aceh, dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh.
Selain restorasi dan preservasi, UIN Ar-Raniry juga menargetkan pembangunan basis data manuskrip Aceh.
Basis data tersebut direncanakan menjadi pusat kajian manuskrip Aceh dan Nusantara.
“Kampus siap membangun database naskah kuno sebagai pusat kajian manuskrip Aceh dan Nusantara,” ujar Mujiburrahman.
Ia berharap program preservasi manuskrip kuno di Aceh dapat dilakukan secara berkelanjutan karena naskah Aceh memiliki nilai sejarah dan peradaban yang tinggi.
- Penulis :
- Shila Glorya





