
Pantau - Anggota Komisi V DPR RI Zigo Rolanda menyebut insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur menjadi alarm serius bagi keselamatan perkeretaapian nasional dan memerlukan perbaikan menyeluruh pada sistem operasional kereta api.
“Insiden tersebut menunjukkan masih adanya kelemahan mendasar dalam sistem operasional perkeretaapian Indonesia,” kata Zigo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Ia menilai kecelakaan tersebut memperlihatkan persoalan keselamatan perkeretaapian nasional sudah berada pada level serius dan kompleks.
Sistem Operasional Dinilai Masih Lemah
Zigo menjelaskan kecelakaan bermula dari kendaraan yang mogok di perlintasan sebidang tidak resmi.
Namun, gangguan awal itu berkembang menjadi kecelakaan besar akibat lemahnya integrasi sistem operasional dan komunikasi antar pengendali perjalanan kereta api.
Menurut dia, insiden tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor teknis perjalanan kereta, tetapi juga menunjukkan adanya kelemahan berlapis dalam sistem operasi perkeretaapian nasional.
“Mulai dari pengaturan headway perjalanan, mixed operation antara KAJJ dan KRL, sistem persinyalan, komunikasi pusat kendali, kepadatan lintasan, ketidakpatuhan terhadap GAPEKA, hingga mitigasi keadaan darurat dan pengamanan di lapangan,” ujar Zigo.
Ia mengungkapkan Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 1.058 kecelakaan di perlintasan sebidang dalam tiga tahun terakhir dengan total korban mencapai 955 orang.
“Dari jumlah itu, sekitar 80 persen terjadi di perlintasan tidak terjaga,” ungkapnya.
DPR Dorong Percepatan Infrastruktur Keselamatan
Zigo mengatakan keselamatan perlintasan sebidang masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan penanganan lintas sektor secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah cepat Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan PT KAI dalam menangani persoalan tersebut.
Langkah yang dilakukan meliputi pembatasan kecepatan perjalanan kereta, evaluasi sistem persinyalan, audit keselamatan, penutupan perlintasan liar, hingga peningkatan pengamanan di 1.638 titik prioritas.
Selain itu, pemerintah juga berencana memasang sistem ATP/SKKO sebagai langkah mitigasi awal guna meningkatkan keselamatan operasional kereta api nasional.
Zigo menilai tantangan ke depan masih besar karena peningkatan keselamatan tidak hanya dibutuhkan di jalan nasional, tetapi juga di jalan provinsi dan kabupaten atau kota yang memiliki banyak perlintasan tanpa pengamanan memadai.
“Diperlukan penguatan integrasi sistem operasi, pengawasan keselamatan, serta percepatan pembangunan flyover dan infrastruktur pendukung lainnya agar kecelakaan serupa tidak kembali terulang,” tutur Zigo.
- Penulis :
- Aditya Yohan





