HOME  ⁄  Nasional

Hiu Gangga yang Nyaris Punah Kembali Ditemukan di Sungai Sesayap Kalimantan Utara

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Hiu Gangga yang Nyaris Punah Kembali Ditemukan di Sungai Sesayap Kalimantan Utara
Foto: (Sumber : Tim gabungan Universitas Hasanuddin, James Cook University, dan Universitas Borneo Tarakan, menemukan kembali Hiu Gangga di Sungai Sesayap, Kalimantan Utara (Kaltara). ANTARA/HO-Unhas.)

Pantau - Tim peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus) yang selama bertahun-tahun dianggap nyaris hilang dari perairan dunia di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Temuan spesies hiu air tawar yang masuk kategori terancam punah itu menjadi kabar penting bagi komunitas konservasi internasional karena kemunculan Hiu Gangga sejak tahun 2000 tercatat kurang dari sepuluh kali di wilayah persebarannya dari Pakistan hingga Myanmar.

Perwakilan Rektor Unhas Prof Rohani Ambo Rappe mengatakan penelitian tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mendukung konservasi berbasis kolaborasi internasional dan penguatan riset kelautan berkelanjutan.

“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat," ungkap Prof Rohani dalam keterangannya di Makassar, Senin (25/5).

Penelitian Temukan 43 Spesimen Hiu Gangga

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan Hiu Gangga dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah sehingga menjadikannya salah satu hiu paling langka di dunia.

Namun, penelitian lapangan yang dilakukan tim kolaborasi internasional pada 2023 berhasil menemukan 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap dalam waktu kurang dari tiga minggu.

Jumlah tersebut menjadikan Sungai Sesayap sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi keberlangsungan spesies langka tersebut.

Menurut Prof Rohani, temuan itu menunjukkan riset kolaboratif mampu membuka harapan baru bagi konservasi biodiversitas Indonesia sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan sains yang berdampak pada persoalan lingkungan global.

“Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” katanya.

Sungai Sesayap Jadi Kawasan Penting Hiu Langka

Peneliti James Cook University Michael Grant mengatakan Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024.

Penetapan tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu sebagai daerah asuhan atau nursery ground bagi hiu sungai yang sangat langka.

Kerja sama antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 juga disebut tidak hanya berfokus pada pengumpulan data ilmiah, tetapi melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari solusi konservasi.

Penulis :
Ahmad Yusuf