HOME  ⁄  Nasional

BNPT Perkuat Literasi Digital untuk Hadapi Pola Radikalisasi Baru di Media Sosial

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BNPT Perkuat Literasi Digital untuk Hadapi Pola Radikalisasi Baru di Media Sosial
Foto: (Sumber : Kepala BNPT Eddy Hartono (kedua kiri) bersama Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo (ketiga kiri) dan Kadensus 88 Antiteror Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo (keempat kiri) dalam rangkaian Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026). ANTARA/HO-BNPT RI.)

Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menilai penguatan literasi digital, kontra narasi, dan peningkatan daya tahan masyarakat menjadi langkah penting menghadapi pola radikalisasi baru yang berkembang melalui media sosial dan platform digital.

BNPT Soroti Ancaman Radikalisme di Dunia Maya

Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan perang melawan radikalisme kini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga berkembang cepat di ruang digital melalui perang narasi.

"Jangan sampai kita kalah kuat dengan narasi-narasi kelompok teror. Kita sadar, baik di ruang publik maupun offline, mereka terus berusaha menyebarkan ideologi tersebut dan targetnya adalah anak-anak kita, generasi muda," kata Eddy dalam rangkaian Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta.

BNPT bersama Densus 88 Antiteror Polri juga menggelar bedah buku berjudul Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital sebagai respons terhadap perubahan pola ancaman terorisme di ruang digital.

Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan arus informasi global yang cepat membuat ancaman keamanan kini saling berkaitan antara konteks global dan lokal.

"Fenomena ancaman saat ini saling berkaitan dan berpotensi ditiru dengan cepat karena pengaruh media sosial, jaringan ideologi, dan dinamika sosial masyarakat," ujar Dedi.

Radikalisasi Disebut Masuk ke Ruang Privat Masyarakat

Dedi menegaskan perubahan pola ancaman harus diikuti perubahan strategi penanganan dengan memperkuat kemampuan membaca gejala sejak dini serta meningkatkan ketahanan masyarakat.

Sementara itu, Kadensus 88 Antiteror Polri Irjen Pol Sentot Prasetyo menyebut penyebaran paham radikal kini telah masuk ke ruang privat masyarakat melalui perangkat digital.

"Medan pertempuran telah berpindah dari hutan belantara menuju layar sentuh di ruang keluarga. Radikalisasi menyusup melalui rasa sepi, kemarahan hingga pencarian jati diri. Kemudian diperkuat oleh algoritma digital," kata Sentot.

Buku tersebut membahas transformasi terorisme modern mulai dari proses radikalisasi, pemanfaatan teknologi digital, pola propaganda, hingga strategi pencegahan berbasis kolaborasi lintas sektor.

Kegiatan bedah buku itu menjadi bagian dari komitmen BNPT, Polri, dan Densus 88 dalam memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan serta meningkatkan literasi digital masyarakat di era digital.

Penulis :
Ahmad Yusuf