HOME  ⁄  Nasional

MUNI Gelar Doa Aspirasi Agung di Borobudur untuk Kedamaian NKRI dan Dunia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

MUNI Gelar Doa Aspirasi Agung di Borobudur untuk Kedamaian NKRI dan Dunia
Foto: (Sumber : Para umat Buddha Nyingma Monlam Chenmo Indonesia melakukan doa bersama di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (28/5/2026) ANTARA/Heru Suyitno.)

Pantau - Majelis Agama Buddha Tantrayana Indonesia (MUNI) menggelar doa aspirasi agung untuk kedamaian NKRI dan dunia di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjelang perayaan Waisak 2026.

Kegiatan tersebut bertujuan memohon kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia maupun dunia internasional.

Ketua Perkumpulan Umat Nyingma Tantrayana MUNI Lama Rama Santoso Liem mengatakan pelaksanaan doa tahun ini memiliki fokus khusus terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia.

"Tahun ini, di luar doa aspirasi rutin, kami menambahkan doa khusus untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kami mendoakan seluruh rakyat NKRI agar selalu berada dalam kedamaian dan kemakmuran," ujar Rama Santoso di Magelang, Kamis.

Ritual Waisak Gabungkan Ajaran Buddha dan Tradisi Jawa

Rangkaian kegiatan Waisak 2026 diawali dengan upacara Nyingma Monlam Indonesia pada hari pertama pelaksanaan.

Pada Jumat malam (29/5/2026), umat Buddha dijadwalkan mengikuti ritual Larung Pelita Purnama Siddhi di aliran Sungai Progo.

Kegiatan dilanjutkan pada Sabtu pagi (30/5/2026) melalui ritual "Merti Karuna Bumi" yang menggabungkan ajaran Buddha dengan adat dan tradisi lokal Jawa.

"Kami berkolaborasi dan menggabungkan ajaran Buddha dengan tradisi Jawa. Melalui Merti Karuna Bumi, kami mengajak seluruh umat Buddha untuk selalu peduli pada lingkungan," ungkapnya.

Ia menegaskan kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat sebelum mendoakan kedamaian dunia.

Konflik Global Pengaruhi Kehadiran Delegasi Asing

Panitia awalnya menyiapkan kapasitas peserta sebanyak 500 hingga 700 orang dari dalam dan luar negeri.

Namun, ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak terhadap kehadiran delegasi asing karena kendala penerbangan internasional.

"Akibat kendala penerbangan internasional yang tidak memungkinkan, puluhan peserta dari mancanegara terpaksa membatalkan perjalanan mereka meskipun telah melakukan registrasi dan konfirmasi kehadiran," kata Rama Santoso.

Meski demikian, kegiatan tetap dihadiri sekitar 400 umat Buddha dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Hongkong, Taiwan, Jepang, China, Portugal, Prancis, Bulgaria, hingga Australia.

Sementara peserta domestik berasal dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari Medan, Pekanbaru, Jambi, Bali, Jawa, hingga Sulawesi.

Panitia juga mengundang sangha dari berbagai majelis agama Buddha lain untuk memperkuat kebersamaan antarumat.

Penulis :
Ahmad Yusuf