HOME  ⁄  Nasional

Suster Joyce Menyapa Jamaah Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo Sambil Meneliti Ruang Ibadah Terbuka

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Suster Joyce Menyapa Jamaah Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo Sambil Meneliti Ruang Ibadah Terbuka
Foto: Suster Joyce berbincang dengan perempuan Muslim, seusai melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul, D.I. Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). (sumber: ANTARA/Rahid Putra Laksana)

Pantau - Suster Joyce, biarawati Kongregasi Puteri Reina Rosari sekaligus mahasiswa Magister Islam Nusantara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Adha kepada jamaah Muslim usai Shalat Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 1447 Hijriah.

Interaksi Lintas Iman di Tengah Shalat Idul Adha

Suster Joyce tampak berbincang hangat dengan jamaah Muslim setelah pelaksanaan salat tanpa adanya jarak meskipun ia mengenakan busana biarawati yang berbeda dengan jamaah perempuan Muslim yang memakai mukena.

Ia mengaku rasa sungkan dan asing yang sempat dirasakan menghilang setelah mendapat sambutan hangat dari para jamaah di lokasi ibadah tersebut.

Kehadirannya di Gumuk Pasir Parangkusumo dilakukan dalam rangka penelitian mengenai pelaksanaan Shalat Idul Adha di ruang terbuka yang ia ketahui sebelumnya dari media sosial yang sempat viral.

Suasana Ibadah di Gumuk Pasir Parangkusoro

Ribuan jamaah sejak pagi memenuhi kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo dengan suasana ibadah yang dipenuhi lantunan takbir di tengah hamparan pasir dan cahaya matahari pagi.

Para jamaah melaksanakan salat dengan membentangkan sajadah dan tikar di atas pasir, sementara anak-anak juga terlihat mengikuti kegiatan ibadah bersama orang tua mereka.

Setelah salat dan khutbah selesai, suasana kebersamaan terlihat ketika jamaah saling berinteraksi dan mengajak Suster Joyce berfoto bersama di lokasi tersebut.

Pendeta Risang Anggoro Elliarso menilai interaksi antarumat beragama dapat menjadi sarana efektif untuk mencegah intoleransi dan memperkuat hubungan sosial di masyarakat.

Kementerian Agama mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia berada pada kategori tinggi dalam beberapa tahun terakhir yang mencerminkan kondisi sosial yang relatif harmonis.

Peristiwa di Gumuk Pasir Parangkusumo tersebut menjadi gambaran ruang kebersamaan lintas iman yang hidup dalam praktik keagamaan masyarakat Yogyakarta melalui saling menghormati perbedaan keyakinan.

Penulis :
Shila Glorya