
Pantau - Dika dan saudaranya Niar, dua penyandang tunanetra, mengisi pelataran Masjid Istiqlal Jakarta dengan nyanyian religi pada momen Idul Adha 1447 Hijriah untuk mencari rezeki di tengah keramaian jamaah.
Kronologi Keberangkatan ke Jakarta
Dika dan Niar berangkat dari Stasiun Bojonggede, Bogor, Jawa Barat pada fajar dalam kondisi masih berkabut dengan menggunakan kereta komuter paling awal menuju Jakarta pada hari Idul Adha 1447 Hijriah.
Keputusan tersebut diambil meski hari raya identik dengan berkumpul bersama keluarga karena keduanya memilih mencari penghasilan di Ibu Kota.
Mereka kemudian menuju kawasan pelataran Masjid Istiqlal Jakarta yang berada di seberang Gereja Katedral untuk beraktivitas setelah pelaksanaan ibadah.
Aktivitas dan Penghasilan di Pelataran Masjid
Setelah khotbah Idul Adha selesai dan jamaah mulai meninggalkan area masjid, Dika langsung bersiap dengan membawa mikrofon dan pengeras suara yang telah dimodifikasi.
Dika yang merupakan penyandang tunanetra bernyanyi lagu-lagu religi dibantu Niar yang mengatur posisi dan memastikan keamanan di tengah keramaian jamaah.
Peralatan yang digunakan meliputi speaker mini hasil modifikasi, mikrofon, serta kemampuan vokal yang diperoleh dari pelatihan di asrama sosial tunanetra.
Penghasilan mereka bervariasi mulai sekitar Rp100 ribu saat sepi, Rp300 ribu pada hari biasa yang baik, hingga Rp500 ribu sampai Rp600 ribu pada momen hari raya di Istiqlal.
Kondisi Sosial dan Kehidupan Keluarga
Dika mengungkapkan bahwa dirinya pernah didata untuk bantuan sosial seperti PKH dan BLT namun hingga kini belum pernah menerima bantuan tersebut, sementara ia tetap berupaya bertahan hidup dengan keyakinan bahwa rezeki tidak tertukar.
Ia juga diketahui hidup bersama suaminya yang sesama penyandang disabilitas dan bekerja sebagai pemandu jalanan di Jakarta, sementara anak-anak mereka dititipkan kepada nenek demi pemenuhan pendidikan dan kebutuhan harian.
Mereka memilih bekerja sebagai pemusik jalanan dibandingkan mengemis untuk menjaga martabat dan kemandirian di ruang publik.
Data Disabilitas dan Akses Pekerjaan
Data Kementerian Sosial menunjukkan jumlah penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia mencapai sekitar 4,29 juta jiwa dengan sebagian masih menghadapi keterbatasan akses pekerjaan, bantuan sosial, dan fasilitas publik yang ramah disabilitas.
Kondisi tersebut membuat sebagian penyandang disabilitas bertahan hidup di sektor informal termasuk di jalanan dengan pekerjaan yang tidak menentu.
Pengaturan Lapangan dan Aktivitas Komunitas
Petugas Satpol PP di area Masjid Istiqlal disebut bersikap kooperatif dan humanis dengan hanya memberikan arahan agar aktivitas tidak mengganggu akses jamaah serta tetap menjaga ketertiban lingkungan masjid.
Di lokasi yang sama terdapat lebih dari tujuh penyanyi tunanetra yang beraktivitas pada hari itu, termasuk Salma berusia 50 tahun yang mendampingi Yuni berusia 30 tahun setelah pensiun dari perusahaan swasta selama lima tahun terakhir.
Salma juga membawakan lagu Islami serta lagu pop-rock Melayu untuk menghibur jamaah, sementara para penyanyi tunanetra berharap nilai keadilan sosial yang disampaikan dalam khutbah dapat dirasakan lebih nyata oleh komunitas mereka.
- Penulis :
- Arian Mesa





