HOME  ⁄  Nasional

Survei KKP dan YKAN di Berau Menunjukkan Habitat Peneluran Penyu Masih Berstatus Hijau dan Aman

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Survei KKP dan YKAN di Berau Menunjukkan Habitat Peneluran Penyu Masih Berstatus Hijau dan Aman
Foto: Arsip - Induk penyu selesai menutup lubang pasir setelah bertelur di pasir tersebut di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (sumber: ANTARA/ Nugroho Arif)

Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama pemerintah daerah dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan survei habitat peneluran penyu di pulau-pulau kecil Kabupaten Berau, Kalimantan Timur pada Jumat yang menunjukkan kondisi kawasan berada dalam kategori hijau atau aman.

Survei ini dilakukan di sejumlah lokasi penting seperti Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman, hingga Balikukup dengan melibatkan pemantauan habitat, penggunaan teknologi pesawat tanpa awak, serta wawancara masyarakat pesisir terkait konservasi penyu.

Hasil Survei dan Temuan Ekologis

Dari 27 titik pengamatan, sebanyak 26 titik tercatat masuk kategori hijau atau sangat sesuai sebagai lokasi peneluran penyu berdasarkan karakteristik pantai seperti pasir yang sesuai, kemiringan ideal, vegetasi alami, serta minim gangguan manusia.

Kabupaten Berau diketahui merupakan bagian dari bentang laut Sulu-Sulawesi di kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia yang menjadi habitat penting penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia serta jalur migrasi berbagai spesies laut bernilai ekologis tinggi.

Partisipasi Masyarakat dan Temuan Sosial

Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman menyampaikan bahwa kegiatan ini mencakup berbagai aspek pemantauan dan ia mengungkapkan, “Survei dilakukan di sejumlah lokasi penting seperti Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman, hingga Balikukup.”

Sebanyak 75 nelayan dari Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, dan Biduk-Biduk menjadi responden wawancara dan hasilnya menunjukkan 98 persen responden mengetahui bahwa perburuan penyu merupakan tindakan ilegal serta sebagian besar masih sering melihat penyu hijau dan penyu sisik di laut maupun pantai.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur Irhan Hukmaidy menyatakan pentingnya hasil pemantauan ini dan ia mengungkapkan, “Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting tidak hanya bagi Kaltim, tapi juga bagi dunia. Hasil pemantauan ini menunjukkan bahwa habitat peneluran penyu di sejumlah lokasi masih sangat baik dan perlu terus dijaga melalui pengelolaan kawasan konservasi dengan kolaborasi bersama masyarakat.”

Program ini juga didukung oleh Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) yang berfokus pada penguatan pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat serta penguatan edukasi dan wisata berkelanjutan di wilayah pesisir Berau.

Penulis :
Shila Glorya