
Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyediakan 150 ribu beasiswa pendidikan tinggi jenjang Diploma IV (D4) dan Sarjana (S1) bagi guru di seluruh Indonesia sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan kualitas sumber daya pendidik.
Beasiswa Ditujukan untuk Guru yang Belum Bergelar D4 dan S1
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan program tersebut ditujukan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi akademik minimal D4 atau S1 sesuai amanat peraturan perundang-undangan.
“Guru-guru yang belum D4 dan S1, kami sediakan beasiswa dengan sistem rekognisi pembelajaran lampau," ungkap Abdul Mu'ti di Manokwari, Papua Barat, Sabtu.
Ia menjelaskan setiap penerima beasiswa akan memperoleh bantuan dana pendidikan sebesar Rp3 juta per semester.
Kemendikdasmen menargetkan peserta dapat menyelesaikan pendidikan D4 atau S1 dalam waktu maksimal empat semester.
Menurut Abdul Mu'ti, saat ini masih terdapat sekitar 200 ribu guru di Indonesia yang belum memiliki kualifikasi akademik D4 maupun S1.
“Kurang lebih 200 ribu guru di Indonesia belum berpendidikan D4 maupun S1. Kami tidak mau melihat ke masa lalu, sehingga tahun ini kami siapkan beasiswa," katanya.
Guru Berpeluang Ikuti PPG dan Pelatihan Kompetensi
Abdul Mu'ti menjelaskan guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik D4 atau S1 dapat melanjutkan ke program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk memperoleh sertifikat pendidik profesional.
Sertifikat tersebut menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan tunjangan profesi guru.
Selain program beasiswa, Kemendikdasmen juga menyediakan berbagai pelatihan peningkatan kompetensi yang didanai melalui APBN dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Ada juga pelatihan kepala sekolah, bahasa Inggris, dan lainnya yang menjadi prioritas untuk kemajuan sektor pendidikan," ujarnya.
Pelatihan yang disiapkan antara lain pembelajaran mendalam, pemrograman (coding), serta pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Kemendikdasmen juga memperluas pemanfaatan program revitalisasi sekolah yang tidak hanya mencakup perbaikan bangunan, tetapi juga pembangunan pagar sekolah, penyediaan air bersih, rumah ibadah, hingga rumah dinas guru di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
“Supaya guru-guru di daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau, tidak perlu pulang pergi karena sudah disediakan rumah dinas," ungkap Abdul Mu'ti.
- Penulis :
- Aditya Yohan





