HOME  ⁄  Nasional

Dinkes Tanjungpinang Pastikan Kasus Campak Terkendali, Imunisasi Dinilai Efektif Cegah Penularan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Dinkes Tanjungpinang Pastikan Kasus Campak Terkendali, Imunisasi Dinilai Efektif Cegah Penularan
Foto: foto: Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN RI Ratu Isyana Bagoes Oka meninjau pelayanan kesehatan ibu dan anak balita di Puskesmas Batu X, Kota Tanjungpinang, Kepri, Senin (25/5/2026). (sumber: ANTARA/Ogen)

Pantau - Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang menyatakan program imunisasi yang dijalankan pemerintah efektif dalam mencegah penyebaran penyakit campak sehingga hingga saat ini belum terjadi lonjakan kasus di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang Rustam menyampaikan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari tingginya partisipasi masyarakat dalam membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan imunisasi secara rutin melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Sepanjang tahun 2025, tercatat terdapat 10 kasus campak dan dua kasus rubella di Kota Tanjungpinang.

Sementara pada tahun 2026, terdapat 26 laporan kasus yang diduga campak dan beberapa sampel telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Rustam mengungkapkan, "Situasi kasus campak di Tanjungpinang saat ini masih dalam kondisi aman dan terkendali."

Campak merupakan penyakit infeksi virus akut yang sangat mudah menular dan menyerang saluran pernapasan dengan gejala khas berupa ruam kemerahan di seluruh tubuh.

Penyakit tersebut disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus dan paling sering menyerang anak-anak, meskipun orang dewasa yang belum memiliki kekebalan juga dapat terinfeksi.

Imunisasi Campak Diberikan dalam Tiga Dosis

Rustam menjelaskan bahwa imunisasi campak merupakan bagian dari program imunisasi nasional yang diberikan kepada anak-anak pada usia tertentu untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut.

Dosis pertama imunisasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan untuk memberikan perlindungan awal terhadap infeksi.

Dosis kedua berupa booster diberikan ketika anak berusia antara 15 hingga 18 bulan.

Dosis ketiga diberikan saat anak berusia 5 hingga 7 tahun atau ketika memasuki kelas 1 sekolah dasar.

Rustam mengungkapkan bahwa efek samping imunisasi campak umumnya bersifat ringan dan tidak membahayakan.

"Efek samping yang paling sering muncul adalah demam setelah imunisasi dan kondisi tersebut merupakan respons tubuh yang normal terhadap vaksin," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa imunisasi campak tidak menimbulkan efek samping berat bagi anak-anak.

Berbagai Vaksin Tersedia untuk Anak

Selain vaksin campak, pemerintah juga menyediakan berbagai jenis imunisasi lain yang disesuaikan dengan usia anak.

Imunisasi hepatitis B diberikan sejak bayi baru lahir untuk mencegah infeksi virus hepatitis B.

Pemerintah juga menyediakan vaksin polio untuk mencegah kelumpuhan akibat infeksi virus polio.

Vaksin pertusis atau batuk rejan turut menjadi bagian dari program imunisasi nasional.

Selain itu, tersedia pula vaksin untuk membantu mencegah diare berat pada anak.

Layanan imunisasi bagi bayi dan balita tersedia secara rutin setiap bulan melalui posyandu maupun puskesmas.

Orang tua dapat memantau jadwal imunisasi anak melalui buku kesehatan ibu dan anak yang diberikan oleh petugas kesehatan.

Jadwal imunisasi setiap anak disesuaikan dengan usia serta tahapan tumbuh kembang masing-masing.

Penulis :
Shila Glorya