HOME  ⁄  Nasional

IOM Desak Penguatan Koordinasi Lintas Batas untuk Cegah Penyebaran Wabah Ebola di Afrika

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IOM Desak Penguatan Koordinasi Lintas Batas untuk Cegah Penyebaran Wabah Ebola di Afrika
Foto: (Sumber : Petugas Palang Merah bersiap menangani jenazah seorang korban yang meninggal akibat Ebola di Centre Medical Evangelique (CME), komune Hoho, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere/bar/.)

Pantau - Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mendesak pemerintah dan mitra internasional memperkuat koordinasi lintas batas guna menekan penyebaran wabah Ebola yang saat ini melanda Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

IOM Ingatkan Penutupan Perbatasan Bukan Solusi Utama

Dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa (2/6), IOM memperingatkan bahwa penutupan perbatasan berisiko mendorong masyarakat menggunakan jalur ilegal yang sulit dipantau sehingga meningkatkan potensi penularan virus.

Data Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo menunjukkan jumlah kasus Ebola terkonfirmasi telah melampaui 300 kasus hingga Senin.

Jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut juga meningkat menjadi 48 orang.

Sementara itu, Uganda mencatat 15 kasus terkonfirmasi dengan satu korban meninggal dunia.

"Virus tidak berhenti di perbatasan, dan demikian pula respons kita," kata Wakil Direktur Jenderal Operasi IOM Ugochi Daniels.

"Ketika perbatasan ditutup, orang sering terus bergerak melalui jalur informal di mana pemeriksaan dan pengawasan kesehatan terbatas. Respons yang paling efektif adalah tindakan terkoordinasi yang menjaga mobilitas tetap terlihat, aman, dan terpantau," ungkapnya.

Mobilitas Warga Tetap Berjalan Meski Ada Pembatasan

Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada, telah memberlakukan pembatasan perjalanan serta penangguhan visa bagi penduduk dari Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan akibat wabah Ebola.

Rwanda dan Uganda yang berbatasan langsung dengan Kongo juga menerapkan pembatasan perjalanan dari negara tetangganya tersebut.

IOM menilai langkah penutupan perbatasan secara reaktif dapat mengurangi efektivitas pemeriksaan kesehatan, pelacakan kontak, pengawasan, dan deteksi dini kasus baru.

Berdasarkan data pemantauan arus pergerakan di titik penyeberangan formal maupun informal, mobilitas lintas batas tetap berlangsung meskipun berbagai pembatasan telah diterapkan.

"Bukti dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa pembatasan pergerakan tidak menghentikan mobilitas, tetapi sering mengarahkannya ke jalur informal dan yang kurang dipantau," kata IOM.

Wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo diumumkan pada 15 Mei 2026.

Otoritas kesehatan setempat menyebut wabah yang sedang berlangsung saat ini merupakan yang terbesar ketiga dalam sejarah negara tersebut.

IOM menegaskan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan dan kerja sama lintas negara dalam menghadapi ancaman kesehatan global.

Penulis :
Ahmad Yusuf