HOME  ⁄  Nasional

Legislator Soroti Tiket Pesawat Domestik Mahal yang Dinilai Hambat Pariwisata Daerah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Legislator Soroti Tiket Pesawat Domestik Mahal yang Dinilai Hambat Pariwisata Daerah
Foto: (Sumber : Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan. ANTARA/HO-DPR.)

Pantau - Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan menilai mahalnya harga tiket pesawat domestik mendorong wisatawan mancanegara lebih memilih berwisata di kota-kota besar dibanding melanjutkan perjalanan ke daerah pelosok yang memiliki potensi wisata.

Menurut Putra, kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi pariwisata lebih banyak dinikmati hotel jaringan internasional dan pusat perbelanjaan besar dibanding masyarakat lokal.

"Rakyat kecil dipaksa menjadi penonton di tengah akumulasi kapital korporasi besar," katanya di Jakarta, Kamis.

Pariwisata Dinilai Belum Berdampak Merata

Putra juga menyoroti tingginya investasi sektor pariwisata yang mencapai Rp25,34 triliun atau tumbuh 76,67 persen, namun tidak diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.

"Ini membuktikan bahwa investasi pariwisata kita saat ini bersifat padat modal (capital-intensive) dan terkonsentrasi pada korporasi besar," ujarnya.

Ia menilai sektor pariwisata seharusnya lebih berpihak pada ekonomi rakyat kecil dan mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di daerah.

Menurut dia, ketergantungan pada pasar penerbangan jarak jauh juga membuat sektor pariwisata rentan terhadap gejolak global.

Ketika konflik geopolitik mengganggu wilayah udara Timur Tengah, sebanyak 1.444 penerbangan dilaporkan batal sehingga menghilangkan potensi kedatangan 160.052 wisatawan mancanegara.

Tiket Naik Hingga Dua Kali Lipat

Putra menilai kebijakan pengalihan pasar wisatawan ke kawasan regional hanya bersifat sementara dan belum menyelesaikan akar persoalan ketergantungan pasar pariwisata Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan sektor akomodasi dan kuliner sebesar 13,14 persen dinilai lebih banyak dinikmati pelaku usaha formal yang memperoleh berbagai insentif fiskal.

Sementara pelaku usaha informal seperti warung rakyat dan homestay swadaya disebut masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku pangan dan energi.

Data penelusuran ANTARA menunjukkan tarif penerbangan ekonomi rute Jakarta-Bali pada awal 2026 saat program diskon pemerintah berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,1 juta untuk sekali jalan.

Namun pada akhir Mei 2026, harga tiket naik menjadi Rp1,4 juta hingga Rp2,3 juta per sekali jalan.

Bahkan pada periode sibuk April hingga Mei 2026, tarif ekonomi untuk rute tersebut sempat mencapai Rp1,8 juta hingga lebih dari Rp2 juta.

Kenaikan itu membuat tarif ekonomi pada sejumlah rute populer tercatat 20 hingga 50 persen lebih tinggi dibanding periode diskon pemerintah, bahkan mendekati dua kali lipat pada hari-hari tertentu.

DPR Dorong Pariwisata Lebih Inklusif

Putra menegaskan pembangunan sektor pariwisata harus mampu menciptakan pemerataan ekonomi hingga ke daerah dan memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha kecil.

Ia berharap kebijakan di sektor transportasi dan pariwisata dapat mendukung peningkatan mobilitas wisatawan ke berbagai destinasi daerah sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

Penulis :
Aditya Yohan