
Pantau - Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa bumi tengah menghadapi tekanan akibat krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan yang dikenal sebagai triple planetary crisis, sehingga pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata untuk menjaga lingkungan.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama demi memastikan setiap generasi dapat mewarisi masa depan yang layak.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menyampaikan pesan tersebut di hadapan sekitar 10.000 peserta dalam acara puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur.
Ia mengungkapkan, "Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam."
Menurut Menteri Jumhur, kondisi lingkungan saat ini menuntut adanya pertobatan ekologis yang dimaknai sebagai perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan komitmen dan kepedulian, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang dilakukan setiap hari secara berkelanjutan.
Tema Saatnya Bekerja untuk Iklim
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengusung tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim" sebagai ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim.
KLH/BPLH menyatakan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari lingkungan terdekat hingga ke skala yang lebih luas.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.
Ia mengungkapkan, "Urusan lingkungan hidup adalah urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik. Pak Menteri Lingkungan Hidup sudah mengatakan bahwa menyelesaikan persoalan lingkungan harus dengan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat."
Pemerintah menilai keberhasilan program swasembada pangan, air, dan energi sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang terjaga.
Penyelesaian berbagai persoalan lingkungan juga dinilai memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Gerakan ASRI Dorong Pemilahan Sampah dari Sumbernya
KLH/BPLH menekankan bahwa aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari langkah besar dan dapat dilakukan melalui perubahan sederhana di tingkat rumah tangga.
Salah satu langkah yang dianjurkan adalah memilah sampah dari sumbernya sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun dan sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dalam kondisi tercampur.
Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana yang memiliki potensi pemanasan lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
KLH/BPLH menyebut semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, dan diolah dari sumbernya, maka semakin kecil emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
Pengelolaan sampah yang baik juga dinilai dapat mengurangi beban TPA dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat.
Untuk mendukung langkah tersebut, KLH/BPLH meluncurkan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).
Melalui Gerakan ASRI, masyarakat diajak menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan tersebut bertujuan membangun kesadaran bahwa aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih maupun investasi besar.
KLH/BPLH menegaskan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari perubahan perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
No Generation Left Behind dalam Menghadapi Krisis Lingkungan
Semangat "No Generation Left Behind" menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Pemerintah menegaskan tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam memahami persoalan lingkungan, menghadapi dampak krisis lingkungan, maupun mengambil peran dalam penyelesaiannya.
Generasi saat ini dinilai memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tetap memperoleh lingkungan yang sehat serta sumber daya alam yang lestari.
Pemerintah akan terus memperkuat berbagai kebijakan pengendalian perubahan iklim dan program perlindungan lingkungan hidup sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Pemerintah menilai keberhasilan pengendalian perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pihak dan partisipasi aktif masyarakat.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengingatkan bahwa masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh rencana semata, melainkan oleh tindakan yang dilakukan mulai hari ini.
Masyarakat diajak mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi tindakan nyata yang berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga bumi dan menghadapi krisis iklim.
- Penulis :
- Arian Mesa





