
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan fokus pengembangan inovasi berbasis teknologi nuklir untuk sektor kesehatan, pangan, dan pertanian guna mendukung ketahanan pangan, peningkatan ekspor, serta kemajuan layanan kesehatan di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria dalam Konferensi Internasional rangkaian Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia di Makassar, Senin (8/6/2026).
Arif Satria menegaskan bahwa pengembangan teknologi nuklir untuk kesehatan dan pangan menjadi salah satu prioritas yang harus terus diperkuat di Indonesia.
Ia mengungkapkan, "Jadi nuklir untuk kesehatan dan pangan ini adalah dua hal yang juga harus kita kembangkan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita melakukan iradiasi pangan untuk produk-produk buah-buahan yang akan kita ekspor."
Fasilitas Iradiasi Pangan untuk Dukung Ekspor
Salah satu pemanfaatan teknologi nuklir yang dikembangkan BRIN adalah iradiasi pangan untuk produk buah-buahan yang akan diekspor ke berbagai negara.
Selama ini Indonesia masih bergantung pada fasilitas iradiasi milik negara lain untuk memenuhi persyaratan ekspor ke sejumlah negara tujuan.
Dalam praktiknya, beberapa produk ekspor harus transit terlebih dahulu ke negara lain untuk menjalani proses iradiasi sebelum dikirim ke negara tujuan akhir.
Ketergantungan tersebut menyebabkan biaya produksi serta biaya ekspor-impor menjadi lebih tinggi bagi pelaku usaha.
Untuk mengatasi persoalan itu, BRIN telah mengembangkan fasilitas iradiasi pangan di Jakarta yang dapat dimanfaatkan eksportir sebelum produk dikirim ke luar negeri.
Teknologi iradiasi pangan digunakan untuk mengawetkan produk pangan, menjaga kandungan gizi, menjamin keamanan pangan dari mikroba, serta melindungi produk dari serangan hama.
Varietas Sidenuk dan Peran Nuklir di Bidang Kesehatan
Selain untuk pangan, BRIN juga telah menghasilkan varietas tanaman bernama Sidenuk yang dikembangkan menggunakan teknologi nuklir.
Varietas Sidenuk memiliki produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama, serta berpotensi mendukung peningkatan produksi pangan nasional.
Arif Satria mengatakan, "Jadi saya kira ini sebuah solusi yang penting untuk bagaimana pangan kita ke depan juga bisa bertarung di level global melalui teknologi nuklir."
Menurutnya, teknologi nuklir dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan daya saing pangan Indonesia di pasar global.
Pada sektor kesehatan, BRIN menilai teknologi nuklir memiliki peran yang sangat penting dan telah dimanfaatkan secara luas dalam berbagai layanan kesehatan.
Salah satu penerapan teknologi nuklir yang telah lama digunakan adalah radiologi untuk membantu diagnosis dan penanganan berbagai penyakit.
Ia menjelaskan, "Seperti misalnya, untuk radiologi. Itu kan basisnya adalah teknologi nuklir. Dan kemudian untuk pangan, untuk pangan itu bisa menciptakan sejumlah varietas berbasis pada teknologi nuklir."
BRIN menilai pengembangan teknologi nuklir memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional, memperkuat ekspor produk pertanian, dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
- Penulis :
- Leon Weldrick





