HOME  ⁄  Nasional

ECADIN Sebut Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas Lebih Cepat dan Mudah Dikendalikan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

ECADIN Sebut Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas Lebih Cepat dan Mudah Dikendalikan
Foto: (Sumber : COO ECADIN Candra Sutama menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta. (ANTARA/Aji Cakti).)

Pantau - Energy Academy Indonesia (ECADIN) menyatakan mitigasi emisi metana di sektor minyak dan gas bumi (migas) lebih cepat dan mudah dilakukan dibandingkan sektor lainnya karena didukung teknologi, metode, serta jumlah operator yang lebih terbatas.

Pernyataan tersebut disampaikan Chief Operating Officer (COO) ECADIN Candra Sutama di Jakarta, Selasa, terkait upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

"Mengapa kita fokusnya ke sektor energi, terutama di minyak dan gas? Karena yang pertama, lebih mudah untuk mengontrol atau mengurangi emisi di sektor minyak dan gas," ungkap Candra.

Menurutnya, sektor migas memiliki kemampuan teknis yang memadai untuk mendeteksi dan mengurangi emisi metana melalui berbagai peralatan dan metode yang telah tersedia.

Sektor Migas Dinilai Efektif Kurangi Emisi

Candra menjelaskan jumlah operator migas yang relatif terbatas membuat penerapan teknologi pengurangan emisi dapat dilakukan secara lebih cepat dan terintegrasi.

Ia mengatakan ketika satu perusahaan migas menerapkan metode pengurangan emisi, kebijakan tersebut umumnya dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh lini operasional perusahaan.

Kondisi itu dinilai mempercepat proses mitigasi emisi metana dibandingkan sektor lain yang memiliki pelaku usaha lebih banyak dan tersebar.

Selain memberikan dampak positif terhadap lingkungan, pengurangan emisi metana di sektor migas juga dinilai tidak menimbulkan biaya tambahan yang besar.

Pengurangan Metana Dinilai Beri Manfaat Ekonomi

Candra menuturkan gas metana yang berhasil dicegah kebocorannya dapat dimanfaatkan dan dijual sehingga menghasilkan pendapatan tambahan bagi industri migas.

"Sehingga ada dua sisi yang satu melindungi bumi, melindungi manusia, yang kedua menghasilkan uang untuk mereka sendiri," katanya.

Metana merupakan komponen utama gas alam dan termasuk gas rumah kaca yang tidak berwarna serta tidak berbau sehingga kebocorannya sulit terdeteksi secara langsung.

Meski memiliki masa hidup lebih singkat di atmosfer dibanding karbon dioksida, metana memiliki kemampuan memerangkap panas yang jauh lebih besar pada periode awal.

ECADIN mencatat metana menyumbang sekitar 30 persen terhadap pemanasan global dan memiliki efek hingga 80 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.

Di Indonesia, emisi metana berasal dari berbagai sektor, mulai dari pertanian seperti peternakan dan persawahan, sektor energi seperti batu bara, minyak dan gas, hingga sektor limbah dan sampah makanan.

Penulis :
Aditya Yohan