HOME  ⁄  Nasional

Kementerian Kehutanan Memprioritaskan Konservasi Hutan Sumatra Melalui Proyek Leverage Bernilai 14,4 Juta Dolar AS

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kementerian Kehutanan Memprioritaskan Konservasi Hutan Sumatra Melalui Proyek Leverage Bernilai 14,4 Juta Dolar AS
Foto: Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho memberikan keterangan kepada media usai peluncuran Proyek Leverage di Jakarta, Rabu 10/6/2026 (sumber: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

Pantau - Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memprioritaskan konservasi hutan di Sumatra melalui Proyek Leverage yang dilaksanakan bersama United Nations Development Programme dengan fokus pada penguatan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi dan peningkatan tata kelola kehutanan.

Pengembangan Peta Kerawanan, Gangguan, dan Penanganan

Proyek Leverage yang merupakan singkatan dari Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi-Sectors Engagement dikembangkan dengan menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni peta kerawanan, peta gangguan, dan peta penanganan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkum) Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengungkapkan, “Kita mengembangkan tiga hal, yaitu peta kerawanan, peta gangguan, dan peta penanganan. Ini yang harus kita kembangkan dalam tata kelola kehutanan, yakni sejauh mana kerawanan suatu kawasan bernilai konservasi tinggi, khususnya di Sumatra.”

Pemerintah juga memfokuskan pendanaan proyek pada wilayah yang memiliki nilai konservasi tinggi sekaligus tingkat kerawanan yang tinggi untuk meningkatkan efektivitas perlindungan hutan.

Pemilihan Sumatra sebagai lokasi awal pelaksanaan turut mempertimbangkan tingginya tingkat gangguan yang terjadi di kawasan tersebut.

Dwi Januanto Nugroho menyatakan, “Pemilihan Sumatra juga mempertimbangkan peta gangguan. Kalau kita bicara berbagai kejadian yang terjadi, banyak yang berada di Sumatra. Ini juga menjadi keprihatinan kita.”

Sumatra Menjadi Lokasi Percontohan Selama Enam Tahun

Dalam pelaksanaannya, pemerintah memprioritaskan penyusunan peta penanganan sebagai dasar evaluasi terhadap upaya mengatasi perburuan, pembunuhan satwa, serta berbagai aktivitas yang mengancam satwa liar dilindungi.

Pemerintah akan mengevaluasi pola penanganan tersebut karena modus operandi pelanggaran terus berkembang sehingga diperlukan pendekatan pencegahan dan perlindungan yang lebih efektif.

Dwi Januanto Nugroho mengatakan, “Semua itu akan kita evaluasi untuk melihat bagaimana pola penanganannya karena memang modus operandinya terus berkembang. Kita mencoba mendalaminya dari berbagai aspek untuk melakukan pencegahan dan perlindungan agar kita lebih protektif dan memadai.”

Proyek Leverage memiliki durasi pelaksanaan selama enam tahun dengan nilai pendanaan mencapai 14,4 juta dolar Amerika Serikat.

Sumatra dipilih sebagai lokasi percontohan untuk menguji penerapan program, memperoleh pembelajaran, dan menyiapkan replikasi di wilayah prioritas konservasi hutan lainnya melalui berbagai skema kerja sama.

Dwi Januanto Nugroho menegaskan, “Jadi pembelajarannya dari tapak di Sumatra, tetapi penerapan dan penanganannya tidak hanya di sana, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah lain. Jadi, untuk tempat-tempat lain juga tetap menjadi sasaran kita dengan berbagai pihak. Kita terus berdiskusi dan mengeksekusi kegiatan-kegiatan tersebut.”

Penulis :
Shila Glorya