
Pantau - Penguatan ketahanan pangan di Papua dinilai perlu dibangun dengan pendekatan yang inklusif agar Orang Asli Papua memperoleh ruang lebih besar sebagai pelaku utama dalam pembangunan sektor pertanian dan ekonomi daerah.
Aspirasi Perluas Peran Petani Muda Papua
Anggota Komite Eksekutif Presiden Republik Indonesia untuk Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Billy Mambrasar telah menyampaikan aspirasi kepada Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan jajaran Kementerian Pertanian agar petani muda Orang Asli Papua mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam berbagai program pertanian nasional.
Langkah tersebut dinilai tidak hanya menyangkut sektor pertanian, tetapi juga menyentuh upaya menciptakan pembangunan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lokal.
Di berbagai wilayah Papua, masyarakat diketahui telah lama menggantungkan kehidupan pada lahan yang dikelola secara turun-temurun dengan memanfaatkan pengetahuan lokal mengenai kondisi tanah dan musim.
Tantangan Akses dan Pemberdayaan Masih Dihadapi
Potensi besar tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari akses pelatihan yang belum merata, keterbatasan pendampingan teknis, pemanfaatan teknologi pertanian modern, hingga persoalan pembiayaan dan pemasaran hasil produksi.
Dalam perspektif pembangunan ekonomi, hambatan tersebut dipandang sebagai kegagalan pasar yang membuat masyarakat memiliki kemampuan namun belum memperoleh akses memadai terhadap sumber daya untuk berkembang.
Pendekatan ketahanan pangan yang inklusif dinilai dapat menjadi jalan untuk memastikan pembangunan tidak hanya diukur melalui peningkatan produksi atau investasi, tetapi juga melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal sebagai penerima manfaat utama.
Dengan memaksimalkan potensi Orang Asli Papua dalam sektor pertanian, pembangunan diharapkan mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





