
Pantau - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong penguatan riset sapi perah tropis guna mempercepat kemandirian susu nasional dan mendukung ketahanan pangan Indonesia dalam Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta pada Minggu, 14 Juni 2026.
Penguatan Riset Dinilai Jadi Kunci
Hanif menilai penguatan sektor persusuan nasional membutuhkan dukungan riset yang mampu menghasilkan terobosan sesuai kebutuhan dan kondisi Indonesia.
Ia mengungkapkan, “Riset-riset harus segera digalakkan. Ambil sapi-sapi yang sesuai dengan karakter tropis kita. Tidak memaksakan subtropis datang ke kita, sehingga begitu dipelihara banyak problem.”
Menurut Hanif, pengembangan sapi perah yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas susu nasional secara berkelanjutan dan memiliki daya saing tinggi.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar produksi susu Indonesia masih bergantung pada jenis sapi yang berasal dari kawasan subtropis.
Hanif juga menyampaikan, “Para riset-riset, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan seterusnya wajib segera menghadirkan jenis-jenis (sapi) yang mampu tumbuh dan berkembang baik, khusus dengan kesesuaian dengan kondisi kita.”
Ia menambahkan, “Susu kita sebagian besar masih berasal dari susu-susu subtropis yang tidak bisa kita kembangkan dengan baik di daerah tropis.”
Kondisi tersebut dinilai menghadirkan tantangan karena iklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi memerlukan pendekatan berbeda agar peternakan sapi perah dapat berjalan lebih optimal dan produktif.
Produksi Nasional Masih Bergantung pada Impor
Saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 1 juta ton susu per tahun secara mandiri.
Sementara itu, kebutuhan susu nasional mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Sekitar 75 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.
Hanif menilai penguatan riset menjadi faktor penting untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam meningkatkan produksi susu nasional sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Selain pengembangan bibit sapi, peningkatan kualitas penanganan produksi dan pengolahan susu juga dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok persusuan nasional.
Hanif menegaskan bahwa percepatan kemandirian susu membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
Ia menuturkan, “Jadi, langkah-langkah itu harus segera kita keroyok bersama. Tidak mungkin Kementerian Pertanian saja mampu menyelesaikan itu. Tetapi, kehadiran kita semua, masyarakat, dunia usaha, pemerintah, itu harus kita lakukan bersama-sama.”
Hanif juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus menggelorakan semangat konsumsi susu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia optimistis bahwa penguatan riset, peningkatan produksi, dan kolaborasi lintas sektor akan mempercepat terwujudnya ketahanan susu nasional sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang sehat.
- Penulis :
- Gerry Eka





