HOME  ⁄  Nasional

Mendukbangga Wihaji Menilai Bahasa Kasih Menjadi Kunci Menjaga Keharmonisan Keluarga di Era Perubahan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mendukbangga Wihaji Menilai Bahasa Kasih Menjadi Kunci Menjaga Keharmonisan Keluarga di Era Perubahan
Foto: (Sumber : Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (kiri) bersama istri dalam eebinar "Bahasa Kasih dalam Keluarga" yang digelar secara daring oleh Kemendukbangga/BKKBN pada Jumat (12/6/2026) yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33)

PANTAU - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji menyatakan bahwa pemahaman terhadap bahasa kasih, karakter, dan watak menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan keluarga di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Bahasa Kasih Dinilai Perkuat Ketahanan Keluarga

Wihaji menyampaikan pandangan tersebut dalam webinar “Bahasa Kasih dalam Keluarga” yang digelar secara daring pada Jumat, 12 Juni 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33.

Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas sehingga diperlukan pendekatan baru untuk menghadapi perubahan zaman.

“Dari mana memperbaiki keluarga? Kalau kita memahami bahasa kasih, watak, dan cinta, Insyaa Allah setengah masalah selesai,” ungkap Wihaji.

Ia menambahkan, “Tentu kita harus punya cara-cara baru, ilmu baru, metode baru untuk kebaikan bersama. Pemahaman mengenai bahasa kasih dan karakter menjadi salah satu bekal penting agar keluarga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.”

Pakar Jelaskan Pentingnya Memahami Karakter

Dalam webinar tersebut, Pakar Neurosains dan Konsultan Keluarga Aisah Dahlan menjelaskan bahwa watak merupakan program bawaan manusia yang diwariskan secara genetik sejak lahir, namun tetap dapat dibentuk melalui pendidikan dan pengalaman hidup.

“Watak bisa dibentuk dengan kita memasukkan ilmu dan prinsip hidup di otak bagian depan, yakni frontal lobus,” ujarnya.

Aisah menekankan bahwa perbedaan watak tidak seharusnya dijadikan dasar untuk memberi label baik atau buruk kepada seseorang karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan, pola asuh, nilai budaya, dan pilihan pasangan hidup turut memengaruhi pembentukan karakter seseorang.

Menurut Aisah, manusia dapat memiliki kecenderungan tipe kepribadian sanguinis yang ceria, koleris yang tegas, plegmatis yang tenang, maupun melankolis yang perfeksionis, dengan masing-masing membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.

Kemendukbangga/BKKBN mengajak seluruh keluarga di Indonesia memperkuat kualitas hubungan antaranggota keluarga melalui komunikasi yang hangat, saling memahami karakter, serta menumbuhkan bahasa kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis :
Gerry Eka