
Pantau - Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim meminta pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak mentah dunia setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran karena berpotensi memengaruhi kebijakan energi nasional, termasuk penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Rivqy menegaskan permintaan tersebut terutama ditujukan kepada pemerintah yang menangani sektor energi agar dapat menyesuaikan kebijakan berdasarkan perubahan harga minyak dunia.
Ia menilai bahwa apabila tren harga minyak dunia terus menurun dan faktor pembentuk harga BBM mendukung, masyarakat berhak menikmati penurunan harga BBM di dalam negeri.
“Manfaat dari turunnya harga minyak global seharusnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Rivqy.
Dorong Transparansi Penyesuaian Harga BBM
Rivqy menyampaikan bahwa apabila harga minyak dunia turun tetapi harga BBM belum dapat diturunkan, pemerintah perlu memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik.
Menurutnya, faktor-faktor yang menghambat penurunan harga BBM harus dijelaskan secara transparan kepada masyarakat.
Ia juga meminta pemerintah memaparkan ruang fiskal serta faktor ekonomi yang memengaruhi kebijakan harga BBM.
“Kebijakan energi harus tetap berkeadilan dan berpihak kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah masih mencermati dampak MoU perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terhadap berbagai sektor ekonomi.
Airlangga mengungkapkan bahwa salah satu aspek yang sedang dikaji pemerintah adalah pengaruh perkembangan tersebut terhadap penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia.
Percepat Kemandirian Energi Nasional
Selain menyoroti harga BBM, Rivqy mendorong percepatan upaya mewujudkan kemandirian energi nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap dinamika global.
Langkah strategis yang diusulkannya meliputi peningkatan produksi minyak dan gas bumi domestik, optimalisasi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi nasional, serta penguatan investasi di sektor energi.
Menurut Rivqy, sektor energi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh berbagai perkembangan internasional seperti konflik antarnegara, ketegangan politik global, maupun kesepakatan kerja sama antarnegara.
Ia menilai perubahan kondisi geopolitik dunia dapat langsung berdampak terhadap harga energi yang dirasakan masyarakat di dalam negeri.
Berdasarkan data penelusuran ANTARA, harga minyak mentah dunia cenderung melemah dalam satu pekan terakhir setelah berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Minyak Brent yang sebelumnya berada di atas 90 dolar AS per barel dilaporkan turun ke bawah 80 dolar AS per barel seiring tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan harga minyak tersebut dinilai menjadi salah satu dampak positif dari meredanya ketidakpastian geopolitik yang sebelumnya memengaruhi pasar energi global.
- Penulis :
- Leon Weldrick








