HOME  ⁄  Nasional

Forum Konservasi Terpadu Perkuat Perlindungan Orangutan Morio di Lanskap Keraitan Kalimantan Timur

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Forum Konservasi Terpadu Perkuat Perlindungan Orangutan Morio di Lanskap Keraitan Kalimantan Timur
Foto: (Sumber :Satu individu orangutan morio yang berada di kawasan pusat rehabilitasi di Samboja Lestari, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur (ANTARA FOTO/Angga Palguna).)

Pantau - Orangutan morio di Kalimantan Timur menghadapi tekanan habitat akibat aktivitas pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan permukiman, sehingga pemerintah bersama akademisi, organisasi konservasi, masyarakat, dan perusahaan membentuk Forum Konservasi Orangutan Terpadu untuk memperkuat perlindungan satwa endemik tersebut.

Konflik Orangutan Meningkat

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mencatat sedikitnya 31 individu orangutan dievakuasi dari lokasi konflik sepanjang 2024.

Jumlah itu meningkat menjadi 37 individu orangutan saat 2025 baru berjalan sekitar dua bulan.

Conservation Action Network (CAN) mencatat sekitar 76 persen populasi orangutan berada di luar kawasan yang dilindungi.

Kondisi tersebut membuat konservasi berbasis kawasan lindung saja tidak lagi memadai.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ari Wibawanto menyebut habitat orangutan morio di Lanskap Kutai membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay dengan luas sekitar 4,2 juta hektare.

Lanskap Keraitan menjadi salah satu sub-lanskap penting dengan luas 560.000 hektare dan menjadi lokasi hampir 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur.

Areal Preservasi Jadi Model Perlindungan

Forum Konservasi Orangutan Terpadu mengusulkan Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan sebagai model pertama di Indonesia.

Areal preservasi tersebut mencakup sekitar 101 ribu hektare yang menghubungkan berbagai kantong habitat orangutan di sekitar Hutan Lindung Keraitan.

Kawasan itu memiliki tutupan vegetasi sekitar 94 persen dan dinilai masih dalam kondisi sangat baik.

Ketua Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan Yaya Rayadin menyebut kawasan konservasi komunal seluas 49 hektare di tengah perkebunan sawit pernah meningkatkan populasi orangutan dari enam menjadi sebelas individu selama masa penelitian.

Temuan tersebut menunjukkan orangutan tetap dapat bertahan jika konektivitas habitat dijaga melalui koridor ekologis yang memadai.

Kolaborasi Lintas Sektor Didorong

Forum tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Timur, KPHP Bengalon, organisasi konservasi, akademisi, dan sejumlah perusahaan dari sektor pertambangan, kehutanan, serta perkebunan sawit.

Superintendent Reclamation Planning PT Kaltim Prima Coal Fahmi Syaifudin mengatakan perusahaan berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Timur dan organisasi konservasi ketika menemukan orangutan di wilayah operasional, termasuk untuk penanganan dan translokasi bila diperlukan.

Kolaborasi lintas sektor itu diharapkan menjadikan Lanskap Keraitan sebagai benteng perlindungan orangutan morio sekaligus contoh bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan.

Penulis :
Ahmad Yusuf