
Pantau - Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI Zainut Tauhit Sa'adi menegaskan integrasi filantropi Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf menjadi kunci untuk memperkuat upaya pengentasan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (24/6), Zainut mengatakan potensi besar instrumen filantropi Islam akan memberikan dampak yang lebih optimal apabila dikelola dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Menurutnya, setiap instrumen memiliki karakteristik dan fungsi berbeda, namun dapat saling melengkapi dalam menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
“Zakat dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha produktif untuk membangun kemandirian ekonomi umat, wakaf dapat digunakan untuk penyediaan aset dan infrastruktur produktif, sedangkan infak dapat mendukung program pelatihan dan pendampingan usaha,” ungkapnya.
Instrumen Filantropi Harus Saling Menguatkan
Zainut menjelaskan filantropi Islam juga berperan sebagai bantuan darurat yang menjadi bagian dari jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang menghadapi kondisi rentan.
Ia menilai instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak boleh berjalan sendiri-sendiri karena harus saling mendukung melalui intervensi yang terintegrasi.
“Karena itu, instrumen-instrumen tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling menguatkan melalui intervensi yang terintegrasi,” ujarnya.
Menurutnya, intervensi filantropi Islam dapat dilakukan secara bertahap mulai dari bantuan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan kondisi masyarakat pascakrisis, pemberdayaan ekonomi, hingga transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Dorong Transformasi dari Charity ke Pemberdayaan
Baznas mendorong perubahan paradigma filantropi dari sekadar charity menuju transformasi sosial yang berkelanjutan.
Zainut menekankan bantuan yang diberikan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan jangka pendek mustahik, tetapi juga harus mampu mendorong pemulihan ekonomi, memperluas inklusi ekonomi, dan meningkatkan kemandirian masyarakat.
“Saat ini, kita masih menghadapi tantangan nyata berupa kemiskinan, masalah kesejahteraan sosial, serta kerentanan ekonomi. Kondisi ini memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga harus berbasis pada nilai-nilai solidaritas dan nilai-nilai spiritualitas Indonesia,” katanya.
Ia berharap sinergi dan integrasi seluruh pilar filantropi Islam terus diperkuat agar mampu menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, tujuan akhir dari upaya tersebut adalah mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan inklusif sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan





